TEKTEKAN

Alias: TEKTEKAN CALONARANG

Link Referensi: <table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"> <tbody> <tr> <td align="left" valign="top"> <p>Gusti Ayu Ketut Suandewi &amp; A.A.A. Mayun Artati. 1998. <em>Tektekan Suatu Bentuk Kesenian Touristik di Bali. Sekolah Tinggi Seni Tari Indonesia Denpasar.</em></p> <p>Sarpa,&nbsp;</p> <p>I Gusti Made. 1977. <em>Tektekan di Kerambitan</em>. Denpasar: Proyek Sasana Bali.</p> </td> </tr> </tbody> </table>

Asal: Bali

Jenis: - Teater - Wayang, Teater - Sandiwara Rakyat

Klasifikasi:

  • Terbuka
  • Sakral
  • Dipegang Teguh

Kondisi: Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Promosi Langsung, promosi lisan (mulut ke mulut)
  • Pertunjukan Seni, pameran, peragaan/demonstrasi
  • Selebaran, poster, surat kabar, majalah, media luar ruang
  • Radio, televisi, film, iklan
  • Internet

Pelapor: I WAYAN ADNYANA

Kustodian: Sanggar Tari dan Tabuh Taruna Patria Kumpulan Gong Banjar Tengah

Guru Budaya/Maestro:

  • I Putu Suteja (alm)
  • I Wayan Garta (alm)
  • AA. Nyoman Sucita
  • A.A.Putu Wirata
  • I Ketut Satra
  • I Made Sukada


Untuk menelusuri bagaimana awalnya ada seri pertunjukan Tektekan adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah hal ini disebabkan karena kurangnya mengenai data-data. Namun atas petunjuk beberapa warga setempat yang dapat diminta informasinya akhirnya dapat suatu gambaran bahwa Tektekan yang ada di Desa Kerambitan pada awalnya bersifat spontanitas, dan bertujuan untuk mengusir wabah. Tektekan merupakan bentuk kesenian tradisional masyarakat Desa Kerambitan Kabupaten Tabanan, yang dalam perjalannya telah mengalami kurun waktu yang panjang untuk menemukan bentuknya seperti sekarang ini. Kalau dilihat dari alat-alat yang digunakan dalam Tektekan ini sebagian besar dibuat dari bambu,yang dimainkan  sekitar 30-40 orang. Ditinjau dari etimologi kata Tektekan berasal dari kata ”Tek”, dijadikan kata mejemuk menjadi tektek, ditambah dengan akhiran an menjadi tektekan.

Ada ungkapan bahwa untuk memberi nama sebuah karya seni di bali tidaklah sulit, pada dasarnya dapat diterima oleh masyarakat, soal nama bukanlah menjadi masalah. Berkaitan dengan Tektekan menurut informasi bahwa nama Tektekan merupakan ungkapan yang dipakai untuk menyebut sebuah kesenian yang didominasi oleh suara tek,tek,tek…., yang ditimbulkan oleh alat-alat yang digunakan. Sebatas dalam tahap interpretasi jika dibandingkan dengan pemberian nama jenis-jenis kesenian lain seperti tari Kecak, diperkirakan memiliki proses yang serupa. Menurut informasi kesenian ini mulai muncul pada waktu warga Desa Kerambitan mengalami Grubug atau wabah (epedemi), atau menurut kepercayaan setempat jika ada seseorang disembunyikan oleh Gamang atau Samar (roh halus) maka diadakan nektek yaitu dengan memukul apa saja yang bisa menimbulkan bunyi, hal ini dilakukan disekitar tempat kejadian dan akhirnya oleh masyarakat orang hilang dapat ditemukan

Konon sekitar tahun 1920-an pernah terjadi wabah penyakit di masyarakat Desa Kerambitan yang mengakibatkan banyak menelan korban maka secara psikologis masyarakat sangat merasa takut apalagi dikait-kaitkan dengan kepercayaan setempat bahwa itu terjadi karena ulah roh-roh jahat yang bergentayangan. Menurut ceritera setempat pada saat terjadinya wabah di malam hari sering terdengar suara yang aneh-aneh yang tidak biasanya mereka dengar, berjangkitnya wabah tidak bisa ditentukan kapan harus berakhir. Upaya masyarakat untuk memulihkan kondisi sediakala sekaligus untuk menghilangkan rasa takut, masyarakat akhirnya berinisiyatif memukul alat-alat yang dapat menimbulkan bunyi yang keras seperti: kaleng, kuali, besi, cangkul dan sebagainya. Itu semua pada dasarnya bertujuan untuk mengusir wabah yang terjadi di masyarakat, sekaligus untuk membangkitkan rasa jengah, sehingga menghilangkan rasa takut  masyarakat akibat wabah yang terjadi di Desa Kerambitan.

Disekitar tahun 1930-an terjadi lagi wabah, hal ini ditanggulangi dengan kegiatan seperti tersebut di atas. Saat itu sudah ada pembaharuan yaitu dengan menggunakan bahan dari bambu yabg disebut dengan kulkul bahanya dari bambu, karena perkembangan jaman kegiatan semacam ini dimasyarakat dipandang sebagai kegiatan yang berkaitan dengannilai-nilai kepercayaan setempat. Mula-mula tujuan dari pementasan ini sebagai ucapan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena wabah penyakit telah berlalu. Kebiasaan nektek atau menabuh bumbung dilakukanapabila sedang merajelela wabah penyaki (epidemi). Selanjutnya dilihat dari Tektekan pada waktu itu sangat sederhana, mereka melakukan nektek secara spontan tergantung situasi dan kondisi masyarakat pada waktu itu. Kegiatan nektek oleh masyarakat dilakukan pada waktu sandikala (peralihan waktu dari sore ke malam yaitu sekitar pukul 18.30 Wita). Kegiatan ini biasanya dilakukan sampai pagi.

Menyinggung tentang kepercayaan itu maka masyarakat Kerambitan mentralisir keadaan dengan menggunakan tetabuhan yang akhirnya menjadi sebuah bentuk pertunjukan disebut dengan tektekan. Mengapa kesenian itu disebut Tektekan? Jika dilihat bahwa pada mulanya disebut tradisi nektek (memukul alat-alat apa adanya) ini merupakan aktivitas spontan masyarakat untuk menghilangkan perasaan takut, memohon keselamatan.

Selanjutnya setelah tahun 1965 tektekan akhirnya menggunakan ceritera Calonarang yang disesuaikan dengan sifat awal terciptanya Tektekan sebagai upaya pengusiran roh jahat yang berhubungan dengan bhuta kala kemudian dengan mengarak Barong dan Rangda mengelilingi desa, kegiatan seperti ini rutin dilakukan terutama pada hari pengerupukan yaitu sehari sebelum hari Nyepi dengan diikuti segenap warga masyarakat Desa Kerambitan.

Cara melestarikan dan mengembangkan Tektekan, yaitu:

Kesenian Tektekan adalah warisan budaya khas Tabanan yang tiada duanya. Karena keunikannya, cukup diapreisasi masyarakat. Saat ini tidak banyak orang yang mampu memainkannya. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa kepedulian semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, dikhawatirkan warisan budaya yang khas, unik dan artristik ini akan semakin terpuruk, bukan tidak mungkin akan punah. Oleh karena itu sekaa ini berdiri mengemban misi menjadikan Tektekan sebagai jati diri, karakter dan identitas Kabupaten Tabanan  dalam hal seni musik dan teater.

Membentuk wadah berupa sekaa untuk melestarikan, mengembangkan dan mensosialisasikan Tektekan, sehingga visi dan misi tersebut di atas dapat tercapai. Selain itu, seka tektekan ini dibentuk bertujuan untuk membentuk masyarakat yang sadar dan cinta budaya sendiri, dengan cara menginventarisir, menorganisir dan memfasilitasi potensi-potensi generasi muda sebagai garda depan dalam melestarikan Tektekan ini.

Pementasan pada even Pesta Kesenian Bali dan lain-lain.

Pertunjukan tarian sakral dalam ajang festival tari/tabuh tradisi sakral

Membuat dokumentasi secara utuh.

Pengkaderan yang difasilitasi pemerintah guna pelestarian seni budaya yang bersifat sakral

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?