MACCERA ARAJANG

Link Referensi: <p>1. Dais Dharmawan Paluseri. 2018. <em>Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2018</em>. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.</p> <p>2. <a href="https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&amp;detailTetap=788">https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&amp;detailTetap=788</a></p> <p>3. <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Maccera_arajang">https://id.wikipedia.org/wiki/Maccera_arajang</a></p>

Asal: Sulawesi Selatan

Jenis: - Upacara Adat - Ritual

Klasifikasi: Sakral

Kondisi: Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Internet
  • Riset

Pelapor:

  • Dr. H. Amran Mahmud, S.Sos., M.Si.
  • Drs. Sudirman Sabang

Kustodian: Pemerintah Kab. Wajo

Guru Budaya/Maestro: Drs. Sudirman Sabang


Upacara membersihkan benda pusaka di Sulawesi Selatan disebut Maccera Arajang dalam bahasa Bugis dan dalam bahasa Makassar disebut Accera Kalompoang. Adapun tujuan dari pelaksanaan upacara ini adalah untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar menurunkan berkahnya sehingga tercipta ketentraman, kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Upacara Maccera arajang dilaksanakan di Kelurahan Gilireng, Kabupaten Wajo. Dahulu pelaksanaannya sekali setahun, dengan waktu pelaksanaan selama tiga hari tiga malam. Namun saat ini pelaksanaannya dua tahun sekali sesuai hasil kesepakatan tokoh-tokoh masyarakat, di mana salah satu yang menjadi pertimbangan adalah masalah besarnya biaya dan juga keturunan dari Arajang sudah banyak yang tinggal di luar Sulawesi Selatan.

Maccera adalah sebuah kata kerja, kata jadian yang berasal dari kata dasar cera, artinya darah. Apabila di depan kata cera ini diberikan ma, maka terbentuklah kata maccera, artinya memberikan atau mempersembahkan atau menyajikan darah. Sedangkan kata arajang adalah bahasa daerah bugis yang berarti benda-benda pusaka kerajaan, kekuasaan. Jadi apabila di depan kata ini ditambahkan dengan kata maccera maka terbentuklah sebuah kata atau istilah, yaitu Maccera Arajang yang berarti membersihkan benda-benda pusaka.

Pelaksanaan Upacara Maccera arajang dipusatkan di rumah Saoraja Petta Manurungnge, karena di rumah ini tersimpan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Gilireng. Pelaksanaan upacara ini juga merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang salah satu kegiatannya adalah membersihkan benda-benda pusaka dan selanjutnya benda-benda tersebut di arak berkeliling kampung oleh warga masyarakat.

Tradisi upacara Maccera arajang sampai sekarang ini masih tetap dipertahankan oleh masyarakat Gilireng, karena upacara ini mempunyai makna yang sangat mendalam bagi kehidupan masyarakatnya. Fungsi Upacara Maccera Arajang bagi masyarakat Gilireng pada dasarnya terbagi dua, yaitu fungsi sosial dan fungsi religius. Makna yang terkandung di diantaranya nilai-nilai yang menguatkan jatidiri dan nilai-nilai yang menguatkan integrasi bangsa.

Tradisi ini berasal dari daerah Kampung Gilireng yang jaman dahulu berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh raja yang bergelar Cakkuridi La Cannong Petta Lampe Uttu. Sebagai Cakkuridi I, sang raja secara turun temurun mempunyai kegemaran berburu rusa yang dikenal dengan maddengngeng. Pada suatu saat sang raja Petta Cakkuridi IV La Tulu mengadakan acara maddengngeng di hutan maccongi yang dipimpin oleh Sulewatang Dg Mattone. Saat kegiatan berlangsung, tiba-tiba muncul seekor rusa jantan, para pasoso yang tidak berkuda maupun yang berkuda bersama anjingnya mengejar rusa tersebut masuk ke hutan ale tekkue. Tak terasa suara gongngongan anjing hilang bersama rusa tersebut sehingga membuat para pasoso heran. Dalam perasaan heran tersebut para pasoso tiba-tiba mendengan bebunyian yang aneh seperti ana beccing, kancing-kancing, gendang dan gong serta berbunyian lainnya yang pasoso tidak tahu nama bunyi tersebut. Para pasoso keluar dari hutang ale takkue melaporkan kejadian aneh tersebut kepada Sulewatang dg. Mattone yang kemudian masuk ke hutan ale takkue dan mendengar bebunyian yang sama dengan apa yang didengar oleh para Pasoso. Kemudian Sulewatang bersama rombongan kembali ke kampung Cilireng dan menuju Saoraja untuk melaporkan kejadian aneh tersebut kepada sang raja (Cakkuridi). Keesokan harinya sang raja beserta pendampingya masuk ke hutan ale Takkue untuk menyaksikan kejadian aneh tersebut. Sang Raja memerintahkan kepada dukun yang sudah mempersiapkan sesajian untuk acara ritual berupa sokko piturupa dan sesajian lainnya. Seluruh rombongan duduk bersilah mengelilingi bebunyian tersebut, terjadilah kejadian yang menakjubkan yakni kemunculan beberapa benda aneh yang berbunyi dan bergerak sendiri tanpa ada yang menggerakkan.

Bersama masyarakat Gilireng sangat senang dan bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Maka diadakanlah pesta adat yang dilaksanakan selama tiga hari tiga malam sekaligus membersihkan (Mattompang) benda-benda tersebut. Pada setiap tahunnya benda pusaka kebanggan masyarakat gilireng tersebut di pestakan dengan kegiatan Maccera Arajang Padditanai Petta Manurungnge. Kegiatan ini dilaksanakan menjelang turun sawah dengan makna memohon kepada dewata Seuwwae(Tuhan Yang Maha Esa) agar menurunkan berkahnya sehingga tercipta ketenteraman kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Pada awal-awal dilaksanakannya Upacara Maccera Arajang ini pelaksanaannya diadakan setiap tahunnya, ketika hendak turun ke sawah. Namun seiring dengan perjalanan waktu, maka pelaksanaan upacara Maccera Arajang ini dilaksanakan dua tahun sekali. Hal ini diambil dari hasil kesepakatan dari tokoh-tokoh masyarakat yang ada di Kecamatan Gillireng, dimana salah satu yang menjadi pertimbangan adalah besarnya biaya yang dikeluarkan pada saat dilaksanakan upacara, begitu pula dengn keturunan dari Arajang yang selalu mengikuti pelaksanaan upacara Maccera Arajang sudah banyak yang tinggal di tempat lain di luar Sulawesi Selatan. Pelaksanaan upacara Maccera Arajang ini dipusatkan di rumah Soraja Petta Manurungnge dan di rumah ini tersimpan benda-benda Pusaka peninggalan Kerajaan Gillireng diantaranya berupa keris, beberapa batu permata, dan pedang Panjjang. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan pada acara Maccera Arajang adalah membersihkan benda pusaka dan pelaksanaan dari upacara ini berlangsung tiga hari tiga malam dengan mengarak benda-benda pusaka tersebut berkeliling kampung oleh warga masyarakat.

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?