Motif Batik Gajah Oling

Alias: Gajah Oling

Link Referensi: <p>Ratnawati, Ike (2010-07-05). <a href="http://repository.upi.edu/">"Kajian Makna Filosofi Motif Batik Gajah Oling Banyuwangi"</a> (dalam bahasa Inggris). Universitas Pendidikan Indonesia.</p> <p><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Gajah_Oling">https://id.wikipedia.org/wiki/Gajah_Oling</a></p> <p><a href="https://kumparan.com/kumparantravel/sejarah-terciptanya-batik-banyuwangi">https://kumparan.com/kumparantravel/sejarah-terciptanya-batik-banyuwangi</a></p> <p>Azhar Prasetyo dalam bukunya <em>Batik Banyuwangi</em> (2007)</p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p> <br> </p>

Asal: Jawa Timur

Jenis: - Seni Rupa - Dua Dimensi, Seni Rupa - Tiga Dimensi

Klasifikasi:

  • Terbuka
  • Sakral
  • Dipegang Teguh

Kondisi:

  • Sedang Berkembang
  • Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Promosi Langsung, promosi lisan (mulut ke mulut)
  • Pertunjukan Seni, pameran, peragaan/demonstrasi
  • Selebaran, poster, surat kabar, majalah, media luar ruang
  • Radio, televisi, film, iklan
  • Internet

Pelapor: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Kustodian: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Guru Budaya/Maestro:

  • Sentra Industri Gajah Oling
  • Batik Gajah Oling Pringgokusumo


Gajah Oling (atau “Gajah Uling”) merupakan motif batik tertua dan paling terkenal di Banyuwangi. Motif Gajah Oling menyerupai tanda tanya. “Gajah Oling” sendiri berarti dari Gajah yang bertubuh besar, atau “yang maha agung”, serta Oling artinya “eling” atau bahasa Jawa dari “ingat”. Maka dari itu, makna dari Gajah Oling merupakan “selalu mengingat yang maha Agung”. Motif ini pernah menjadi tema untuk Banyuwangi Batik Festival di tahun 2013.

Gajah Oling adalah ragam hias atau motif yang identik dengan Banyuwangi. Gajah Oling, khususnya bagi kalangan pembatik, dipercaya sebagai motif paling tua di antara motif-motif batik Banyuwangi lainnya.[1][2] Selain batik, ragam hias Gajah Oling juga banyak diterapkan pada aneka rupa budaya visual, seperti mural, ukiran, dekorasi dan grafis.

Rancangan ragam hias Gajah Oling seakan menyerupai tanda tanya (?), yang secara filosofis meniru bentuk belalai gajah dan sekaligus digambarkan menyerupai uling (seekor sidat/moa). Disamping kedua unsur tersebut, ragam hias ini juga dikelilingi sejumlah unsur lain diantaranya kupu-kupu, tumbuh-tumbuhan laut, manggar (bunga pinang/kelapa) dan sebagainya

Gajah Oling diambil dari kata gajah yang berarti hewan besar dan oling yang artinya mengingat dalam bahasa Using. Filosofinya adalah jika menjadi orang besar harus mengingat orang yang kecil dan supaya manusia senantiasa mengingat yang Maha Besar. Pada tahun 1859 dilukis oleh Johannes Muller.

pemaknaan corak Gajah Oling berkaitan dengan karakter masyarakat Banyuwangi yang bersifat religius. Karena itulah Gajah yang merupakan hewan bertubuh besar berarti maha besar, sedangkan Uling adalah eling atau dalam bahasa Indonesia berarti ingat.

Secara keseluruhan Gajah Oling bermakna untuk selalu mengingat kemahabesaran Sang Pencipta yang menjadi dasar dari perjalanan hidup masyarakat Banyuwangi.

Sementara budayawan Banyuwangi, Aekanu Hariyono, mengatakan Gajah Oling layaknya perputaran hidup manusia.

"Gajah Oling itu perputarannya seperti Perputaran Hidup dalam Cokro Manggilingan. Perputarannya, perputaran yang berlawanan dengan jarum jam. ornamen yang kuat dari Gajah Oling, biasanya di sini ada kembang kelapa, bunganya kelapa. Karena konsepnya, kelapa itu tidak satu pun bagian dari kelapa yang tidak memiliki manfaat untuk makhluk hidup. Apapun. Jadi konsepnya manusia bermanfaat.

 Dari sudut pandang geologi, batik tertua cocok dengan tanaman pakis purba Cyatea sp. Yang hidup sejak 350 juta tahun yang lalu dan sampai saat ini tumbuhan tersebut masih ada di Banyuwangi.

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?