MANTEN PEGON

Alias: MANTEN PEGON

Link Referensi: <p>Judul Buku &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;: Manten Pegon Surabaya</p> <p>Penulis &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;: Irene Sri Wuryanti, M. Pd, 69 tahun</p> <p>Tempat Terbit &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;: Surabaya, tahun 2012</p> <p> <br> </p> <p>Judul Buku &nbsp; &nbsp; &nbsp; : Tata Rias Pengantin Pegon</p> <p>Penulis &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; : Dewie Novieana</p> <p>Tempat Terbit &nbsp;: Surabaya, Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, tahun 2007</p> <p>&nbsp;&nbsp;</p> <p><a href="https://youtu.be/KFxyDDG1tAQ">https://youtu.be/KFxyDDG1tAQ</a></p>

Asal: Jawa Timur

Jenis: - Upacara Adat - Upacara, Upacara Adat - Ritual

Klasifikasi: Terbuka

Kondisi: Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Promosi Langsung, promosi lisan (mulut ke mulut)
  • Internet
  • Riset

Pelapor: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya

Kustodian: Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia Melati Surabaya

Guru Budaya/Maestro: Irene Sri Wuryanti, M.Pd


Manten Pegon adalah upacara pernikahan atau proses pertemuan antara mempelai laki-laki dengan pihak mempelai perempuan yang lahir dari akulturasi antara budaya Eropa (Belanda), Arab, Cina dan Jawa. Sebagai upacara pernikahan, pelaksanaan Manten Pegon diperkirakan dimulai pada abad ke – 19 seiring dengan derasnya migrasi orang-orang dari luar daerah ke Surabaya. Sejak kedatangan mereka itu, maka budaya asli Surabaya mulai bercampur dengan budaya masyarakat pendatang. Pelaksanaan upacara adat pengantin Pegon ini diperkirakan dimulai sejak abad ke – 19. Meskipun terdapat percampuran budaya dari berbagai bangsa, namun unsur budaya aslinya masih nampak, seperti dengan adanya loro pangkon. Pada dasarnya, pernik-pernik yang digunakan oleh kedua mempelai (laki-laki dan perempuan), terutama seperti busana maupun perlengkapan lainnya, mengadopsi dari berbagai budaya yang dibawa oleh para pendatang.


Dalam pelaksanaan upacara Manten Pegon, kedua mempelai (laki-laki dan perempuan) harus dirias sedemikian rupa. Busana yang digunakan oleh mempelai perempuan mirip seperti busana panjang atau dress selayaknya perempuan Eropa (Belanda), dengan bahan kain yang terbuat dari sutra Cina atau sutra kombinasi dengan bahan lain dengan warna lembut dan mengkilap. Tata rambut pengantin perempuan identik dengan budaya Jawa karena menggunakan sanggul, untaian melati, kembang goyang, dan mahkota. Sementara itu, dari pihak mempelai laki-laki menggunakan jubah dan sorban sebagai penutup kepala dimana hal ini identik dengan budaya Arab. Selanjutnya, pengantin laki-laki akan diarak menuju rumah pengantin perempuan, dengan mendapat kawalan dari pendekar silat yang membawa ayam jago dan diirini oleh hadrah (terbang jidor) yang melantunkan bacaan Shalawat. Sebelumnya, masing-masing mempelai telah mempersiapkan pendekar silat untuk adu parikan (pantun), kemudian adu kekuatan, tetapi kemudian pertandingan itu dimenangkan oleh pendekar utama. Hal ini dilakukan sebagai simbol bahwa mempelai laki-laki berhasil mendapatkan mempelai perempuan setelah menghadapi berbagai macam rintangan.  

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?