WAYANG MBAH GANDRUNG

Alias: MBAH WAYANG GANDRUNG

Link Referensi: <p>Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Profil Kebudayaan Kabupaten Kediri (Informasi Nilai Budaya, Kesejarahan, Upacara Adat, Legenda Rakyat, Cagar Budaya dan Kesenian Tradisional)</p> <p> <br> </p> <p>Youtube link : <a href="https://youtu.be/7xSWpFRyBT8">https://youtu.be/7xSWpFRyBT8</a></p>

Asal: Jawa Timur

Jenis: - Musik - Instrumental, Seni Rupa - Dua Dimensi, Seni Rupa - Tiga Dimensi, Upacara Adat - Ritual, Teater - Wayang

Klasifikasi:

  • Terbuka
  • Sakral
  • Dipegang Teguh

Kondisi: Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Promosi Langsung, promosi lisan (mulut ke mulut)
  • Pertunjukan Seni, pameran, peragaan/demonstrasi
  • Selebaran, poster, surat kabar, majalah, media luar ruang
  • Internet

Pelapor: Drs. EKO SETIYONO, M.Si

Kustodian: Masyarakat Desa Pagung

Guru Budaya/Maestro:

  • Mbah Giyar
  • Mbah Kandar


Wayang Mbah Gandrung merupakan salah satu jenis wayang yang terbuat dari kayu yang biasa disebut Wayang Krucil atau Wayang Klithik.

Wayang Mbah Gandrung hanya ada di Desa Pagung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri dan hanya pentas di setiap Suro, bulan penanggalan Jawa.

Wayang Gandrung bagi orang Kediri dan sekitarnya dianggap wayang mistis. Selain selalu dijamas dan hanya ditampilkan di bulan Suro atau kepentingan lain misalnya bagi mereka yang punya ujar (nadzar). Wayang Gandrung menurut kisahnya terlahir dari sebuah bongkahan kayu yang terdampar di sungai pada saat terjadi banjir di daerah Pagung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri sekitar abad 17 lalu.

Beberapa keunikan yang berhasil ditelusuri berdasarkan penuturan ahli warisnya antara lain, wayang ini terlahir dari bongkahan kayu jati yang hanyut saat terjadi banjir, seperti dituturkan secara turun temurun oleh Lamidi (60) sang pewaris ketujuh Wayang Gandrung dari kakek buyutnya Ki Demang Proyosono. Kayu jati yang terdampar itu dibelah oleh orang misterius setelah penduduk Pagung, gagal membelahnya.

"Wayang ini adalah peninggalan kakek buyut saya yakni Demang Proyosono, tokoh spiritual dari Surakarta yang sedang melakukan topo/nyepi di Gunung Wilis. Wayang ini hanya boleh dibuka saat pementasan saja selain itu tidak boleh," .

Kedua, ke mana pun ketika masih bisa dijangkau, mulai wayang, kenong, gong, rebab, kendang, gambang, dipikul/diangkut dengan jalan kaki.  

Ketiga, saat penentuan alur cerita dalam pagelaran wayang, sang dalang seperti Mbah Kandar tidak memiliki otoritas menentukan lakon. Semua hanya berdasarkan wangsit yang diterima Lamidi, keturunannya, setelah dirinya melakukan laku ritual. Peran kuat Lamidi dalam pengaturan proses 'mungel' (proses pementasan) merambah ke seluruh aspek aktualisasi Wayang Gandrung, baik fisik maupun psikis. Hal ini membangun kerangka mistik yang terstruktur bagi menguatnya mitos masyarakat terhadap Wayang Gandrung.

Selain sang dalang tidak memiliki otoritas, penunjukan sebagai dalang hanya berdasarkan wangsit. Salah satu contohnya adalah Mbah Kandar, sang maestro seni tradisi yang sejak tahun 1982 menjadi dalang Wayang Gandrung.

"Kulo ujug-ujug saged dalang sak wangsule angsal wangsit ken dados dalang Wayang Mbah Gandrung (Saya tiba-tiba bisa mendalang setelah mendapat wangsit supaya menjadi dalang Wayang Mbah Gandrung)," kata Mbah Kandar yang selalu ceria.

Gambaran proses mistis tidak hanya berhenti di situ, saat prosesi mungel diawali dengan dengan ritual selamatan di awal dan akhir pertunjukan serta tindakan-tindakan magis terhadap Wayang Mbah (sebutan lain Wayang Gandrung) dengan kelengkapan mistiknya. Setelah proses dilalui, dilanjutkan dengan persiapan artistik yakni meliputi penataan fisik peralatan mungel meliputi gawangan, gamelan, blencong dan wayang ,gawangan merupakan peralatan untuk menyimping wayang (menata). Sedangkan kelengkapannya adalah instrumen gamelan dalam bentuk sederhana yakni meliputi kendhang, gambang, rebab, kethuk, kenong dan kempul (gong suwukan) yang ditempatkan melingkar di antara dalang dan kotak wayang.

Jika diperhatikan dengan seksama instrumen yang mengiringi pagelaran Wayang Gandrung nampak tua, unik dan bentuknya menimbulkan kesan magis. Bahkan ketika proses penataan instrumen para pengrawit nampak berhati-hati tanpa suara berisik sehingga menimbulkan suasana khusuk dan wingit. Penonton terbius oleh situasi emosional tersebut, belum lagi ditambah aroma dupa yang menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

Keberadaan Wayang Mbah Gandrung menjadi simbol atau ikon ‘Wayang Pangayoman’, karena wayang tersebut memiliki kekuatan magis yang dapat memberikan pemecahan dalam kehidupan warga Desa Pagung dan sekitarnya. Sehingga Wayang Gandrung bisa bertahan secara turun temurun hingga lebih dari 300 tahun sampai saat ini.

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?