LEGENDA CALON ARANG

Alias: CALON ARANG SI JANDA DARI GIRAH ( GURAH )

Link Referensi: <p>Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Profil Kebudayaan Kabupaten Kediri (Informasi Nilai Budaya, Kesejarahan, Upacara Adat, Legenda Rakyat, Cagar Budaya dan Kesenian Tradisional)</p> <p> <br> </p> <p>Perpustakaan Nasional RI. In Nasional RI. Balai pustaka. Page3. Calon Arang, Penulis Dr. Soewito Santoso</p>

Asal: Jawa Timur

Jenis: - Verbal Tekstual - Cerita rakyat, Teater - Sandiwara Rakyat

Klasifikasi:

  • Terbuka
  • Sakral
  • Dipegang Teguh

Kondisi: Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Promosi Langsung, promosi lisan (mulut ke mulut)
  • Pertunjukan Seni, pameran, peragaan/demonstrasi
  • Selebaran, poster, surat kabar, majalah, media luar ruang
  • Internet

Pelapor: Drs. EKO SETIYONO, M.Si

Kustodian: Masyarakat Desa Sukorejo

Guru Budaya/Maestro:

  • Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka
  • Dr. Soewito Santoso


Kisah Calon Arang awalnya ditulis di naskah daun lontar ( Tidak di ketahui siapa penulisnya ) ditulis dengan aksara Bali kuna tetapi bahasanya Kawi atau Jawa Kuna. Terdiri dari empat naskah yang kesemuanya sekarang tersimpan di Perpustakaan Koninklijk Institut voor Taal- Land –en Volkenkunde van ned.Indies di Leiden,Belanda.

Naskah Calon Arang pernah diterbitkan dan di terjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr.Poerbatjaraka dan pada tahun 1975 diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Dr.Soewito Santoso dengan Judul “Calon Arang Si Janda Dari Girah”

Balai Pustaka 1975.

 Kisah Calon Arang sendiri muncul di masa Pemerintahan Raja Airlangga ( 1006-1042 M ) yang memerintah di Jawa Timur sejak 1021 sesuai dengan isi prasasti Pucangan ( Calcutta ). Saat memerintah Airlangga beberapa kali memindahkan Kerajaan akibat serangan musuh. Salah satunya di terangkan dalam Prasasti Terep ( 1032 M ) menyebutkan Raja Airlangga lari dari Istananya di Watan Mas ke Patakan karena serangan musuh.

  Airlangga pernah memerintah di Daha Kediri, seperti tertulis dalam serat Calon Arang. Dalam masa Pemerintahan di Daha, Airlangga banyak mendapat cobaan antara lain dari janda sakti asal Desa Girah atau Gurah yang bernama  Calon Arang.

 Dikisahkan saat itu Calon Arang marah gara-gara anak perempuanya yang bernama Ratna Manggali tidak ada yang melamar ketika menginjak dewasa. Ketidakberanian pemuda-pemuda kala itu dikarenakan kesaktian Calon Arang yang di kenal bengis. Mengetahui hal ini,   Calon Arang marah dan menenung rakyat sebagai hukuman. 

Calon Arang adalah penganut Bhairawa Pengiwa dan penyembah Durga. Dia melakukan ritual meminta bantuan kepada Durga untuk menurunkan wabah  penyakit ke seluruh wilayah Kerajaan.

 Korban bergelimpangan setiap detik, tak ada obat yang dapat mengatasi penyakit dan teluh di sebarkan oleh Calon Arang. Setiap sudut Kerajaan hanya terlihat mayat-mayat yang tak tertulis.

 Banyak korban membuat Raja Airlangga tidak tinggal diam. Dia mengirimkan bala Tentara untuk menangkap Calon Arang. Namun usaha itu gagal total. Rupanya Calon Arang terlalu sakti. Serangan itu malah membuat kemarahan Calon Arang semakin menjadi –jadi.

 Hingga kemudian sang Raja Airlangga mendapat petunjuk. Mpu Bharadah, salah satu penasehat Raja Airlangga yang berkedudukan di Lemah Tulis ( Di wilayah barat Kota Kediri yang berbatasan dengan Gunung Wilis ), bisa mengalahkan Calon Arang.

 Salah satu Strategi yang di lakukan Mpu Bharadah menurut adalah perkawinan politik yang tujuanya adalah menggerogoti dari dalam keluarga Calon Arang, yakni mengawinkan muridnya yang bernama Mpu Bahula dengan Ratna Manggali.

 Dikisahkan bahwa lamaran diterima oleh Calon Arang lalu kawinlah Bahula dengan Ratna Manggali dan tinggalah Bahula di rumah mertuanya. Dari Ratna Manggali itu Bahula tahu bahwa Calon Arang selalu membaca kitab dan tiap malam melakukan ritual kepada Durga. Setelah tinggal beberapa lama di rumah mertua, Bahula mendapat banyak informasi soal ritual yang di lakukan Calon Arang. Bahula juga berhasil mengambil kitab Calon Arang dan menunjukanya kepada Mpu Bharadah.

 Setelah di baca dan berhasil di pelajari, akhirnya Mpu Bharadah memerintahkan Mpu Bahula kembali ke rumah mertuanya sebelum diketahui karena sempat mencuri kitabnya.

 Saat Mpu Bharadah juga menyusul ke Girah menyembuhkan masyarakat yang terkena teluh Calon Arang. Hingga akhirnya bertemulah Mpu Bharadah dengan Calon Arang. Mpu Bharadah memperingatkan Calon Arang agar menghentikan teluhnya yang telah mengakibatkan terlalu banyak kesengsaraan rakyat.

 Sebenarnya saat itu Calon Arang sudah bersedia menuruti Bharadah asalkan Mpu Bharadah bersedia meruwatnya  untuk melebur dosa-dosanya. Namun Bharadah tidak mau meruwatnya karena dosa Calong Arang terlalu besar. Terjadilah pertengkaran dan Calon Arang mencoba membunuh Bharadah dengan menyemburkan api yang keluar dari matanya. Bharadah lebih sakti dan sebaliknya Calon Arang mati dalam keadaan berdiri.

 Di akhir cerita Calon Arang dihidupkan lagi oleh Mpu Bharadah untuk diberi ajaran kebenaran agar bisa mencapai moksa. Calon Arang merasa bahagia karena sang pendeta mau mengajarkan jalan ke Surga. Setelah selesai ajaran - ajaran itu disampaikan  Calon Arang dimatikan lagi lalu mayatnya dibakar. 

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?