LEGENDA SUMBER BARU KLINTHING

Alias: SUMBER BARU KLINTHING

Link Referensi: <p>Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Profil Kebudayaan Kabupaten Kediri (Informasi Nilai Budaya, Kesejarahan, Upacara Adat, Legenda Rakyat, Cagar Budaya dan Kesenian Tradisional)</p> <p> <br> </p> <p><a href="https://youtu.be/gnbVoqlP0fM">https://youtu.be/gnbVoqlP0fM</a></p>

Asal: Jawa Timur

Jenis: - Verbal Tekstual - Cerita rakyat, Musik - Instrumental, Teater - Sandiwara Rakyat

Klasifikasi:

  • Terbuka
  • Dipegang Teguh

Kondisi: Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Promosi Langsung, promosi lisan (mulut ke mulut)
  • Pertunjukan Seni, pameran, peragaan/demonstrasi
  • Selebaran, poster, surat kabar, majalah, media luar ruang
  • Internet

Pelapor: Drs. EKO SETIYONO, M.Si

Kustodian: Masyarakat Dusun Bunut

Guru Budaya/Maestro: SUROSO


Dikisahkan pada jaman dulu, seorang pertapa di Pulau Majeti bernama SANG AJI SAKA yang didampingi oleh ke empat sahabatnya yaitu yang bernama DUGO, DORA, PRAYOGA dan SEMBADA.


Dalam hasratnya yang membara SANG AJI SAKA mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk pergi ke pulau Angejawi (Jawa), dalam perjalanannya ke pulau Angejawi diikuti oleh tiga sahabatnya yaitu DUGO, PRAYOGA dan DORA, sedangkan sahabatnya yang bernama SEMBADA ditugaskan untuk menjaga pertapaan menunggu keris pusaka SANG AJI SAKA.


Sebelum pergi ke pulau Angejawi SANG AJI SAKA berpesan kepada SEMBADA  ”sepergi saya ke pulau Jawa, siapapun orangnya tidak diperbolehkan mengambil keris pusaka, kecuali Sang Aji Saka sendiri”. Sembada teguh memegang pesan dan janji sebagaimana yang diamanatkan oleh Sang Aji Saka.


Perjalanan Sang Aji Saka sampai di Pulau Jawa. Pada waktu itu keadaan di pulau Jawa sedang terjadi malapetaka dan huru-hara, karma adanya seorang raja dari negara Medang Kamolan yang berjejuluk Prabu Dewata Cengkar, yang tak henti-hentinya memakan daging manusia laki-laki. Sehingga kehidupan masyarakat di pulau Jawa semakin gonjang-ganjing, dan masyarakatnya banyak yang mengungsi ke hutan-hutan dan gunung-gunung untuk menyelamatkan jiwa raganya.


Konon perjalanan Sang Aji Saka sampai di Pulau Jawa dan sudah berada di Kerajaan Medang Kamolan dan menginap di rumah seorang janda yang terkenal. Kala itu Prabu Dewata Cengkar dengan seluruh punggawanya sampai di rumah janda cantik. Dan langsung rumah janda itu didobraknya. Perasaan janda sangat takut bukan kepalang, jangan-jangan sudah tahu kalau Sang Aji Saka menginap di rumahnya akan dimakannya.


Kala itu Sang Aji Saka, maju perlahan-lahan dengan tenangnya menemui Prabu Dewata Cengkar dan menyambutnya dengan salam kehormatan. Seketika itu pula Prabu Dewata Cengkar dengan suara gemuruh menyuruhnya Sang Aji Saka untuk pulang ke Pulau Majeti, bila tidak mau pulang akan dimakan hari ini juga. Ternyata Sang Aji Saka tidak mau pulang dan siap menerima untuk dimakan oleh Prabu Dewata Cengkar.


Dengan muram Prabu Dewata Cengkar melihat Aji Saka langsung pulang ke Istana Negara Medang Kamolan, dan para prajurit serta hulubalang segera menangkap Aji Saka untuk dibawa ke Medang Kamolan untuk diproses kematiannya. Sebelum Aji Saka dimakannya, terlebih dahulu diberinya kesempatan, Aji Saka untuk menyampaikan sesuatu, karena Prabu Dewata Cengkar masih menghormati bahwa Aji Saka adalah seorang pertapa. Sang Aji Saka hanya meminta secuil tanah seluas destar (udeng) yang dipakai Aji Saka, dan tanah yang seluas destar itu harus berada di halaman alun-alun kerajaan yang berdekatan dengan pesisir lautan.


Jawab Sang Prabu dengan kerasnya: “Untuk apa secuil tanah tersebut?”. Jawab Aji Saka: “Akan dibuatnya lobang, yang nantinya untuk menimbun tulang-tulang yang tersisa”.


Keesokan harinya sekitar pukul 06.00 diadakan upacara kehormatan atas terkabulnya permintaan Aji Saka. Kala itu Aji Saka melepas destarnya dan diletakkan di halaman alun-alun, sedangkan Prabu Dewata Cengkar tidak boleh menyentuh destar tersebut. Aneh dan ajaibnya setelah destar diletakkan di alun-alun, destar tersebut semakin meluas dan melebar dan semakin berkembang. Saat destar/udengnya Aji Saka semakin melebar dan meluas, Prabu Dewata Cengkar semakin terdesak oleh destar tersebut, sehingga seluruh tubuh Prabu Dewata Cengkar tercebur ke dalam Samudra Selatan atau Segara Kidul. Seketika itu keadaan tubuh sang prabu dewata cengkar berubah menjadi “Seekor Buaya Putih”, orang jawa menyebut “Bajul Putih”, dan menyatu dengan buaya-buaya putih yang jumlahnya ribuan. Buaya Putih Prabu Dewata Cengkar selanjutnya diangkat menjadi raja diantara ribuan buaya putih yang sebelumnya telah menghuni segara kidul.


Beberapa waktu kemudian, sewaktu Sang Aji Saka berjalan-jalan dipinggir pantai segara kidul yang berada di sebelah alun-alun Kerajaan Medang Kamolan, secara tiba-tiba, Bajul Putih melakukan sebuah serangan kepada Sang Aji Saka dengan dahsyatnya dan terjadilah peperangan hebat dengan Aji Saka.


Peperangan tersebut berjalan tidak seimbang, karena Bajul Putih semakin lama merasa tidak dapat mengimbangi kekuatan Sang Aji Saka. Melihat raja nya kewalahan menghadapi Sang Aji Saka, seluruh buaya putih yang berjumlah ribuan menyerang dan mengeroyok Sang Aji Saka. Dengan kemampuan dan kesaktian yang dimiliki Sang Aji Saka, seluruh buaya putih dapat dikalahkan dengan sekejap.


Buaya putih yang menyerang dan mengeroyok Sang Aji Saka, yang masih hidup akhirnya melarikan diri, kembali masuk ke dalam segara kidul. Sedangkan buaya putih yang mati, bangkai nya di tumpuk di sepanjang pantai segara kidul. Karena banyak nya bangkai buaya putih yang mati, tumpukan bangkai buaya putih seperti gunung, yang dikemudian hari disebut dan diberi nama Gunung Kapur Selatan.


Kemenangan Sang Aji Saka melawan buaya putih jelmaan Prabu Dewata Cengkar menjadi kebanggaan seluruh rakyat Medang Kamolan. Rakyat yang dulu takut dan sedih kini menjadi gembira dan merasa aman, yang berlindung di hutan-hutan dan di gunung-gunung pulang ke kampung halamannya dan bertemu dengan sanak keluarganya.


Sang Aji Saka akhirnya dinobatkan menjadi raja di Negara Medang Kamolan, dengan elar yang diberikan adalah “SANG MAHA PRABU AJI SAKA” Prabu Aji Saka memerintah dengan arif bijaksana, memberi prioritas pada hal-hal yang mulia, dilengkapi dengan sabda pandita raja dan teguh memegang pusaraning keadilan. Menjadikan rakyat Medang Kamolan hidup aman dan damai.


Tepat pada hari Kamis Legi (Respati Manis), Sang Prabu Aji Saka menggelar Pasewakan Agung yang dihadiri oleh seluruh para Menteri Bupati dan Brahmana serta Senapati perang kerajaan Medang Kamolan. Tak ketinggalan pula sahabat kinasihnya yaitu Duga, Prayoga, dan Dora. Setelah memberikan ajaran-ajaran dan petunjuk kesegenap yang hadir di Pasewakan, Sang Prabu Aji Saka memerintahkan kepada Dora untuk berangkat ke Majeti untuk mengambil keris pusaka di pertapaan untuk dibawa pulang ke Medang Kamolan sebagai pusaka kerajaan. Tanpa meniawab sepatahpun, Dora mohon pamit dan langsung berangkat ke Majeti untuk menemui sahabatnya Sembada.

Sesampainya di pulau Majeti, Dora bertemu dengan Sembada yang sudah sudah lama berpisah dan kala itu juga saling melepas rasa kerinduannya.


Selanjutnya Dora menyampaikan seluruh pesan Sang Prabu Aji Saka tanpa ada yang tertinggal, terutama tentang tugasnya untuk mengambil keris di pertapaan. Sembada merasa kaget mendengar keris akan diambil oleh Dora karena sepengetahuannya Sang Aji Saka sendirilah yang akan mengambil keris tersebut. Maka bersikukuhlah Sembada tidak akan memberikan keris kepada Dora. Terjadilah pertengkaran mulut diantara keduanya dan berlanjut pada pertempuran fisik. Akhirnya mereka berdua mati bersama dalam pertempuran sengit tersebut. Kematian ini oleh orang jawa disebut sebagai “mati sampyuh”.


Suasana alam seperti berkabung, matahari tidak mengeluarkan sinar dibarengi dengan hujan gerimis kecil putih-putih. Kala itu juga Sang Aji Saka keluar dari istana, menatap langit, samodra kidul dan memanggil para brahmana untuk bersantiaji Keprabon. Di malam harinya Sang Prabu Aji Saka mendapat ilham

Ha, Na, Ca, Ra, Ka, (Ada sebuah kisah)

Da, Ta, Sa, Wa, La (Terjadi sebuah pertarungan)

Pa, Dha, Ja, Ya, Nya, (Mereka sama-sama sakti)

Ma, Ga, Ba, Tha, Nga, (Dan akhirnya semuanya mati)


Setelah sang prabu membeberkan tentang ilham tersebut ke seluruh yang hadir di pasewakan, sang maha prabu mengajak seluruh punggawa kerajaan untuk turun ke desa, membaur dengan rakyat Mendang Kamolan tanpa ada jarak atau pembeda antara punggawa kerajaan dengan rakyat jelata. Dengan warna baru sang prabu melihat kerajaan Mendang Kamolan yang ternyata keadaan negaranya “panjang punjung, pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, karta tata tur raharja”.


Saat melakukan perjalanan ke desa – desa di Mendang Kamolan, dan menikmati keindahan alam di Negara Medang Kamolan sampailah Sang Prabu Aji Saka di desa yang paling terpencil hampir berdekatan di pinggir hutan. Sayup-sayup terdengar lantunan lesung yang jumengglung yang kadang kala diiringi bertenggernya ayam jantan. Hati Sang Prabu semakin penasaran ingin mencari dimana tempat suara itu berada. Ternyata dilihatnya bahwa lesung itu ternyata seorang wanita cantik sedang menumbuk padi di gubuk belakang rumahnya, yang didampingi seekor ayam jantan. Sang Prabu Aji Saka semakin mendekat dan diintainya wanita penumbuk padi itu dari sela-sela lobang dinding bambu yang sudah setengah reot itu.


Dengan asyiknya wanita cantik itu menumbuk padi dan secara diam-diam Sang Prabhu Aji Saka melihat dan mengamati dari dekat wanita tersebut dan ternyata wanita ini memiliki kecantikan yang luar biasa bagaikan dewi dari kahyangan. Begitu sang Prabhu Aji Saka melihat kecantikan wanita ini, maka munculah perasaan cinta yang tidak bisa tertahankan, dan pada akhirnya secara tidak sengaja Sang Prabhu Aji Saka mengeluarkan cairan dari tubuhnya yang membasahi tanah setempat.


Sang Prabu Aji Saka perlahan-lahan beranjak dari tempatnya berada, sambil melangkah dengan perasaan berat untuk meninggalkan tempat itu, kemudian sang prabu memberi kode aji saka yang digoreskan pada dinding bambu. Dan meninggalkan tempat tersebut, sebagai kenangan tempat wanita cantik yang menumbuk padi.


Sepeninggal Sang Aji Saka dari tempat itu, wanita cantik penumbuk padi tidak mengetahui kejadian di lingkungan lesung tersebut, kecuali si ayam jagonya yang menggodanya, maka dipukullah ayam jago itu dengan tangkai padi oleh sang prabu, sambil melompat setengah terbang si ayam jago bersuara keeoooook, jatuh tepat di tempat Sang Prabhu Aji Saka sewaktu mengintip wanita cantik penumbuk padi. Anehnya si ayam jago melihat sebutir putih seperti beras itu lalu dipatuknya kemudian ditelannya dan kembali lagi ke lesung.


Dan disaat yang bersamaan wanita cantik ini berkemas-kemas akan meninggalkan tempatnya menumbuk padi. Sang putri masuk ke rumahnya dan langsung menuju ke pedharingan/genthong tempat menyimpan beras, setelah selesai pergilah sang putri ke sumur untuk mandi, dan kala itu bersamaan si ayam jago masuk ke dalam kandang, memang waktu itu hari sudah masuk ke saat senja menjelang malam.


Matahari sudah masuk ke cakrawala dan malam telah mengganti suasana waktu. Dengan bergesernya waktu, kala semakin malam sang putri mulai tidur, namun tidak dapat memejamkan mata (tidur-tidur ayam) entah apa yang terjadi sepertinya ada sesuatu yang tidak dapat diterjemahkan. Semakin gaduh perasaan sang putri terdengarlah bertenggernya si ayam jago yang melengkapi semakin risaunya emosi sang putri. Si ayam jago semakin berulang-ulang bertengger dan terdengarlah bertenggernya si ayam jago dengan suara ngungkung lenturan panjang sepertinya dengan disertai seluruh tenaganya.


Dengan perasaan semakin gusar bangunlah sang putri dari tempat tidurnya dan keluar mengambil segenggam daun kelapa kering dan disulutnya ujung daun kelapa itu. Perlahan sang putri menuju kandang ayam jagonya, ternyata si jago tidak lagi berada pada tempat pagakan/pangkringannya tetapi berada di tanah dengan keadaan “Ndekem”. Terkejut hati sang putri lalu di ambilnya si ayam jago dan diletakkan di pagakan tempat tidurnya. Anehnya selesainya sang putri meletakkan kembali si jago ke pagakan, ternyata tempat ndekemnya si ayam jago tadi ada sebutir telur putih besar lonjong sebesar telur angsa.


Dengan hati senang campur iba, aneh tapi nyata. Unik dan menarik dibawanva telur pulang dan dimasukkan ke dalam genthong tempat menyimpan beras. Tujuh hari kemudian, saat sang putri mengambil beras untuk ditanak, tangan sang putri menyentuh sesuatu dan sang putri tanpa rasa takut sama sekali, malah dibelai dengan mesranya. Dengan perasaan iba sang putri melihatnya, ternyata seekor ular sowo kembang yang berbau wangi, dengan rasa cinta diambilnya ular itu di pinang dan dibawa ke tempat tidurnya. Sang putripun tidak jadi untuk menanak nasi, seolah sudah merasa kenyang. Di manja, dipeluk, dan diciumnya, si sowo kembang dengan tak henti-hentinya seolah seperti sang bayi yang baru lahir dari kandungan sang putri.


Di pagi hari si sowo kembang, ingin keluar untuk melihat suasana dan diikuti oleh sang putri sebagai pengganti ibunya. Sampailah sowo kembang di tempat lesung dan bermain-main seolah-olah ada sesuatu bagi dirinya. Kala itu sowo kembang tidak mau pindah dari dinding reot, dan di tempat itulah si sowo kembang dapat berbicara layaknya manusia, dan bertanyalah si sowo kembang kepada sang putri. Semula mau melontarkan pertanyaan ini agak termangu-mangu, tetapi terdorong rasa yang kuat akhirnya terlontarlah sebuah pertanyaan dengan nada yang datar, “Sang putri, siapakah sebenarnya ayahku ini?”. Dengan menoleh ke dinding reot itu sang putri menjawab, “wahai ular sawo kembang yang perkasa, ayahmu adalah seorang pertapa agung, di gunung urung-urung yang bernama AJI SAKA, yang sebenarnya petapa dan juga adalah seorang raja”.


Dengan tanpa dipikir panjang si sowo kembang langsung mohon doa restu untuk menuju ke gunung urung-urung seketika di lingkungan pertapaan berbau wangi, dan terkejut hati sang Aji Saka. Datanglah si Sowo Kembang menghadap sang maha muni, dengan menghaturkan sembah sungkem, bersamaan itu pula keluarlah suara bernada geram Sang Aji Saka,

“Siapakah kamu ini?”. 

Jawab Sowo Kembang: “Saya diperintah oleh ibu penumbuk padi untuk datang kesini, sebab sang pertapa adalah ayahku”.


Mendengar putri penumbuk padi terkejutlah Sang Aji Saka dan teringat terhadap peristiwa lamanya. “Jadi kedatanganmu kesini sebenarnya mau apa?”

Jawab si Sowo Kembang : “Kedatangan saya kesini adalah, Mohon Sang Pertapa untuk memberiku sebuah nama, agar aku senang dengan nama itu dan Sang Pertapa berkenan untuk mengakui bahwa hamba adalah keturunan dari sang maha muni.”


Sang Aji Saka lalu memegang leher sowo kembang dan dikalungkannya sebuah klinthing dan diberilah nama “NAGA BARU KLINTHING”, dan bersabdalah “asma kinarya japa”. Si Naga Baru Klinthing akan diakui sebagai anak apabila tubuhnya dapat melingkari gunung urung-urung ini dengan tuntas, artinya kepala dan ekornya dapat bertemu menjadi satu (jawa: tepung gelang).


Dengan bangga berangkatlah Naga Baru Klinthing setelah mohon doa restu untuk melingkari gunung urung-urung tersebut. Dengan penuh perjuangan untuk melingkari gunung urung-urung ternyata setelah di depan Sang Aji Saka bertapa ternyata Naga Baru Klinthing tidak dapat mempertemukan antara ekor dan kepalanya. Dengan cerdiknya Naga Baru Klinthing menjulurkan lidahnya dan ternyata dapat berhasil. Namun apa yang terjadi saat Sang Aji Saka melihatnya, seketika diambilnya keris yang ampuh langsung dipenggalah lidah si Naga Baru Klinthing dan putus seketika.


Potongan lidah Naga Baru Klinthing melesat ke angkasa dan suara alam mengiringi dengan tanda gaib yang mengerikan. Naga Baru Klinthing setelah terpenggal lidahnya, tubuhnya bergerak di dalam tanah di sekitar gunung urung-urung yang akhirnya tanah menjadi gundhukan (bukit kecil) dan langsung di malam itu diiringi oleh suara halilintar serta kilat thathit yang mengerikan. Bersamaan suara guruh di angkasa yang mencekam, dari jauh suara gelombang tsunami samudra yang seolah menggulung jagad. Sirepnya suara alam yang mengerikan tadi, hadirlah “MANUSIA BAJANG”, akan berkelana di sekitar desa.


Konon masyarakat desa tersebut akan merayakan hari bersih dusun, dan beramai-ramailah masyarakat dusun untuk membersihkan halaman rumah dan lorong-lorong jalan, serta lingkungan gundhukan tanah yang dekat dengan jalan itupun diratakan agar tidak menutupi jalan. Saat seorang pekerja yang menebang kayu di sekitar gunung urung-urung, memecok akar kayu keluarlah darah yang memancar, dan terkejutlah orang-orang di dekatnya. Kala itu membuat penasaran seluruh orang – orang yang bekerja gotong royong tersebut.


Lalu dibongkarlah seluruh gundhukan tanah yang melingkar, ternyata ditemukan daging binatang besar. Tanpa pikir panjang, masyarakat lalu dipotong – potonglah daging tersebut untuk dibawa ke rumah masing-masing persiapan untuk pesta di hari bersih dusun. Masyarakat sangat senang hatinya karena diacara bersih dusun kali ini, lauk pauknya dengan serentak menggunakan daging.


Di saat masyarakat memasak daging didatangi oleh manusia bajang, dari rumah ke rumah, yang dengan sengaja meminta makan lengkap dengan lauk pauknya. Ternyata tidak satu keluargapun yang mau memberi makan kepada si bocah bajang tersebut, bahkan diusirnya. Berjalan dengan tenanglah bocah bajang dari rumah ke rumah, dan sampailah ke rumah yang berada di sudut desa terpencil tepatnya di pinggir desa di sela-sela hutan kecil dan rawa-rawa.


Rumah itu adalah rumah seorang janda tua renta, rumah tersebut adalah sebuah gubuk kecil yang dipagari dengan bunga-bunga indah juga terhiasi oleh dupa sesaji. Janda tua sedang memasak daging yang nantinya akan dibawa untuk bersih dusun, datanglah bocah bajang meminta makan lengkap dengan lauk pauknya. Dengan lahapnya nasi dihabiskan, tapi tak sepotong daging yang dimakannya, dan ditinggalkan di dalam piring. Bocah Bajang tersebut memberikan pesan kepada sang janda tua tersebut untuk bersiap – siap sang nenek dengan enthong yang bertangkai panjang serta lesung yang nanti ada manfaatnya.


Bersama dengan selesai memberikan pesan tersebut, menghilanglah si bocah bajang tersebut. Si nenek tua merenung sebentar, langsung mohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberinya perlindungan.


Ke esokan hari nya, di pagi harinya seluruh masyarakat mulai berkumpul di balai dusun untuk melaksanakan upacara bersih dusun, lengkap dengan sesaji, makanan serta pauk pauknya. Dikala ujub kenduri sedang berlangsung, datanglah si bocah bajang dengan suara lantang “Hentikan dulu ujub kenduri ini”, sebab akan diberinya sebuah sayembara untuk memeriahkan acara bersih dusun tersebut.


Sayembaranya adalah: “barang siapa yang dapat mencabut lidi yang saya tancapkan di halaman balai dusun ini, saya bersedia untuk dipotong-potong badannya, tetapi bila tidak dapat mencabutnya seluruh masakan daging ini akan saya rampas semua tanpa terkecuali”.


Masyarakat yang sedang melaksanakan kenduri bersih dusun menjadi berang dan marah mendengar sayembara si bocah bajang tersebut. Keluarlah seluruh masyarakat yang sedang berpesta pora ke halaman balai dusun, dan berusaha untuk mencabut lidi yang ditancapkannya. Setelah satu persatu mencabut, tak ada yang berhasil juga. Akhirnya berkelompoklah masyarakat untuk mencabut lidi yang tertancap. namun hasilnya pun sia-sia.

Dengan serentak masyarakat menyuruhnya si bocah bajang untuk segera mencabut lidi yang tertancap. Perasaan haru bercampur gundah, dengan tangan kirinya lidi itu dipegangnya. Wajah menatap ke langit, sambil mengucap doa pelan-pelan lidi itu dicabutnya. Tercabutlah lidi itu, dan seketika keluarlah sumber air yang jernih mengalir kearah barat. Seluruh masyarakat menjadi malu hati, karena melihat berhasilnya si bocah bajang mencabut lidi itu.


Akhirnya dikeroyoklah bocah bajang, dan bocah bajang akhirnya berusaha lari meninggalkan halaman balai dusun. Semakin lama semakin banjir pula sumber air tersebut. Dengan banjirnya air dari sumber mata air yang ajaib ini, seolah “BANJIR BANDANG, DAN BANYAK MANUSIA YANG TENGGELAM”, yang masih hidup berteriak minta tolong. Kala itu pula si bocah bajang menghilang dari permukaan, dan akan rnenyatu dengan lidah Naga Baru Klinthing yang melesat ke angkasa, bersama itu pula hilangnya lauk pauk entah kemana.


Hanya janda tua yang tempo hari memberi makan kepada si bocah bajang yang selamat karena menuruti pesannya untuk naik lesung dengan berdayung enthong sambil menanti surutnya air bah. Ternyata setelah air banjir surut lesung berhenti di sebelah sumber mata air, dan si nenek tua menamakan sumber mata air tersebut “SUMBER BARU KLINTHING” dan terkenal sampai sekarang legendanya di Dusun Bunut, Desa Bringin, Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, Propinsi Jawa Timur

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?