TRADISI MORAA

Alias: TRADISI MORAA

Link Referensi:

https://www.youtube.com/watch?v=50q65SzxIjA

https://www.youtube.com/watch?v=T6_-E5MxRzc

https://www.youtube.com/watch?v=e2G6_Qaesfw

https://www.youtube.com/watch?v=AQ7dXKHMbyQ

Asal: Sulawesi Tengah

Jenis: - Musik - Vokal, Gerak - Tarian, Upacara Adat - Ritual, Upacara Adat - Pesta Rakyat

Klasifikasi:

  • Terbuka
  • Sakral
  • Dipegang Teguh

Kondisi:

  • Sedang Berkembang
  • Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Promosi Langsung, promosi lisan (mulut ke mulut)
  • Pertunjukan Seni, pameran, peragaan/demonstrasi
  • Selebaran, poster, surat kabar, majalah, media luar ruang
  • Radio, televisi, film, iklan
  • Internet

Pelapor: MUHAMAD ARSYAD, S.E., M.Si (KEPALA DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN TOJO UNA-UNA)

Kustodian: DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN TOJO UNA-UNA

Guru Budaya/Maestro:

  • RAMAN NANGOYO
  • AMRUN NUKU


Suku lalaeyo merupakan suku bangsa yang mendiami sebagian besar di wilayah Kecamatan Tojo Kabupaten Tojo Una-Una Provinsi Sulawesi Tengah, yang kesehariannya menggunakan bahasa nde’e dan sebagian besar telah menganut Agama Islam, sehingga Budaya dan adat istiadatnya yang sudah bernuansa Religi Islami. Suku lalaeyo mempunyai beragam adat istiadat yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyrakat setempat, salah satunya adalah pelaksanaan perayaan moraa. Pelaksaan Moraa bertujuan memberikan sesembahan kurban kepada Tuhan Yang maha Esa (Lamoa) yang telah memberikan limpahan rejeki sehingga dapat hidup dengan layak. Bentuk manifestasinya adalah ritual matompo (penyembelihan ayam yang sehat dan benar). Pada awalnya ritual moraa dilaksanakan setelah selesai kegiatan panen padi/bulava yang menjadi makanan pokok dan tanaman unggulan suku lalaeyo, dan dilaksanakan pada waktu Tau Ji (nama salah satu hitungan waktu suku lalaeyo). Sebelum proses ritual Motompo di mulai, telah disiapkan beberapa ekor ayam pilihan yang diserahkan oleh warga, setelah beberapa buah gasing telah ada yang berpendapat, jumlah masing-masing tujuh buah sesuai dengan 7 bintang dilangit yang merupakan petunjuk penentuan hari baik memulai penanaman padi/bulava. Proses Motompo dimulai dengan mentona’i yakni mememegang seekor ayam dengan nyanyian ritual yang digunakan dalam kesenian wora sinci pada upacara kesenian memegang seekor ayam yang akan di sembelih dengan membaca mantera/doa oleh ketua adat, agar sesembahan qurban diterima oleh Allah SWT. Setelah melaksanakan pimpinan petani untuk memulai menyembelih ayam sesuai dengan syariat Islam. Setelah menyembelih darah dioleskan pada ikatan padi yang telah disediakan, juga pada gasing dan tela dengan niat agar keberkahan Qurban yang telah dipersembahkan tadi melekat dan tersimpan pada ketiganya (rarasi). Setelah pelaksanaan ritual Moraa selesai, maka msyarakat lalaeyo mengadakan perayaan dengan berbagai kegiatan kebudayaan yang meliputi 10 Objek yaitu :

Pemajuan Kebudayaan:

Tradisi Lisan : Montona’I ( Rapalan atau doa dalam ritual Motompo) dan Mondagia

( Ucapan syair-syair yang mengandung pujian,sindiran dan Nasehat).

Manuskrip: Tulisan syair-syair yang akan dinyayikan pada tarian Kayori,tende bomba

dan lain-lain.

Adat Istiadat : saling silaturahmi dan menjamuTamu dan gembira.

Permainan Rakyat: permainan gasing(Ganci), Motela merupak permainan wajib

yang mengandung maksud dan tujuan yakni, gasingmengilustrasikan berharap

berputar kehidupan yang lebih baik. Permainan tela mengharapkan kelancaran

turunya rejeki dari Yang Maha Kuasa dll.

Olah Raga Tradisional: Movinti melambanglkan kekuatan, kontao melambangkan

kesatria, Tarik tambang melambangkan kebersamaan dll.

Penetahuan Tradisinal : menu yang disajiakan mempunyai makna masing-masing.

makanan Khas nasi bambu, Burasa,Gogoso, Tape Momi, Tai Afu,dll.

Teknologi Tradisional : Ala (lumbung padi khasLalaeyo). Bangke, (Peti penyimpanan

pakaian kepala suku).

Seni : Pagelaran kayori, tende bomba, motaro, ranje’e.dll

Bahasa : bahasa Nde’e

Ritus : Motompo, Maore matampa’e ma oko bingka dan

Cagar Budaya : Pakaian Araja, Rumah adat,dll.

Adapun prosesi kegiatan Moraa yang dilaksanakan oleh Masyarakat Lalaeyo pada

masa sekarang ini sebagai berikut:

Mengadakan musyawarah bersama antara pemerintah dan tokoh adat dalam

menentukan waktu, pembagian tugas dan undangan khusus pada acara Moraa.

Acara resmi ritual Moraa bertempat di rumah adat atau nlapangan terbuka mulai

pagi hari dengan ditandai dengan music gendang dan gong serta diiringi ritual tarian

motaro khusus kalangan Perempuan. Dan pintu disetiap rumah penduduk telah

dibuka siap meneriam tamu.

Sambal menunggu waktu pelaksanaan adat moraa, Masyarakat menggelar olah

raga dan permainan tradisioanl berupa lomba gasing dan motela.

dan Ucapan Syukur serta permohonan kepada Tuhan untuk kelacaran Kegiatan.

Pembacaan Doa secara islam

Acara Inti:

Montona’I : Oleh ketua adat untuk memulai acara inti moraa (motompo)

Motompo, (Proses motompo ini sudah memakai tata cara agama islam). Di mulai dari

ketua Tani, atau npemangku adatlainnya. Selanjutnya akan dipersilahkan bagi Tokoh-

tokoh yang hadir, dengan catatan harus beragana islam dan mengetahui tata cara

penyembelihan berdasarkan syariat Islam.

kata sambutan darimpihak dewan adat, pemerintah serta para tokoh penting yang hadir

Istrahat acara ini di isi dengan adat moo ko bingka, yaitu menjamu para tamu dengan air

tape manis, yang dibawah 7 orang Wanita dengan dipandu oleh ketua adat yang

melakukan syair dagia/laulita.

acara ditutup dengan tarian kayori bersama

kunjungan silaturahmi ke rumah-rumah warga.

 Pada malam hari dilaksanakan kegiatan kayori sampe pagi hari, di selah kegiatamn

kayori, para pemangku ada, duduk membahas kegiatan ma ora matampae untuk

penanaman padi/bulava selanjutnya.



Video Dokumentasi

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?