MUSIK BAMBU MANG BAS

Link Referensi: <p>1. Hasman B. 2011. <em>Eksistensi Musik Bambu (Bas) Dalam Kehidupan Masyarakat Di Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang</em>. Makassar: Universitas Negeri Makassar.</p> <p>2. Siti Nurhalisa. 2020. <em>Makna Musik Bambu (Bas) Pada Masyarakat Desa Tongko Enrekang&nbsp;</em>dalam Buku "<em>Mempertahankan Tradisi di Tengah Krisis Moralitas"</em>. Parepare: IAIN Parepare Nusantara Press.</p> <p>3. <a href="https://parepos.co.id/2020/08/dikbud-enrekang-gelorakan-alat-musik-bambu/">https://parepos.co.id/2020/08/dikbud-enrekang-gelorakan-alat-musik-bambu/</a></p> <p>4. <a href="http://www.kulimaspul.com/2020/05/26/para-seniman-dan-sejarah-singkat-to-mang-bas-di-bumi-massenrempulu/">http://www.kulimaspul.com/2020/05/26/para-seniman-dan-sejarah-singkat-to-mang-bas-di-bumi-massenrempulu/</a></p> <p>5. <a href="https://www.tribunnews.com/regional/2016/01/30/bas-alat-musik-khas-enrekang-itu-kini-nyaris-punah">https://www.tribunnews.com/regional/2016/01/30/bas-alat-musik-khas-enrekang-itu-kini-nyaris-punah</a></p> <p>6. <a href="https://www.youtube.com/watch?v=B7ut7BWKj-M">https://www.youtube.com/watch?v=B7ut7BWKj-M</a></p>

Asal: Sulawesi Selatan

Jenis: - Musik - Instrumental

Klasifikasi: Terbuka

Kondisi: Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Pertunjukan Seni, pameran, peragaan/demonstrasi
  • Radio, televisi, film, iklan
  • Internet
  • Riset

Pelapor:

  • Jumurdin, S.Pd., M.Pd.
  • Anggoro Dasananto, S.H.

Kustodian: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Enrekang

Guru Budaya/Maestro:

  • Anton
  • Hamin, S.Pd., M.Ap.


Indonesia merupakan Negara yang kaya keanekaragaman budaya. Salah satunya alat musik tradisional. Alat musik tradisional adalah alat musik yang berkembang dari generasi ke generasi berikutnya pada suatu daerah yang digunakan untuk mengiringi lagu-lagu daerah dan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat. Kebudayaan Enrekang (Massenrempulu) berada diantara kebudayaan Bugis, Mandar dan Tana Toraja. selain masih melestarikan kehidupan adat istiadat, masih melaksanakan upacara tradisional seperti pesta panen, perkawinan, sunatan, dan upacara adat lainnya yang mementaskan Musik Bambu Mang Bas.

Musik Bambu (Mang Bas) adalah sebuah kelompok musik bambu yang terdiri dari banyak pemain, meliputi perempuan dan laki-laki. Alat musik bambu Bas ini terbuat dari bahan dasar bambu dan cara penggunaan alat bambu tersebut yaitu dengan cara ditiup. Dalam permainan Musik Bambu Mang Bas mempunyai seorang dirigen untuk mengatur agar musik dapat selaras dan harmonis. Instrumen suling yang kecil biasanya dimainkan oleh kaum wanita sedangkan kaum laki-laki memainkan instrumen yang besar. Musik bambu ini kebanyakan dipentaskan pada kegiatan upacara-upacara adat seperti pesta perkawinan, sunatan/khitanan, syukuran dan pesta-pesta adat lainnya. Musik tradisional ini muncul dan berkembang pada zaman Kerajaan Massenrenpulu yang berada di kekuasaan Raja Matindo Duri dimana pada zaman ini masyarakat di tanah Duri sudah mempunyai berbagai jenis alat musik tradisional seperti Bagao, Capunde, Bara Baru’tun dan Gendang Kabo’bonga.

Perubahan seni musik yang ada pada era sekarang tak luput dari perkembangan teknologi yang menyebabkan masyarakat mudah menyerap budaya-budaya dari luar. Ini menjadi tantangan di era sekarang karena minimnya generasi-generasi muda yang ingin belajar dan mempertahankan budaya leluhur yang telah di turun secara turun temurun. Salah satu alat musik tradisional yang hampir punah keberadaannya ada alat musik bambu bas yang berasal dari daerah Kabupaten Enrekang.

Kebanyakan Pemain Musik Bambu Mang Bas itu terdiri dari orang tua yang sudah memiliki keluarga dan mempunyai kesibukan tersendiri, sehingga untuk melakukan pembinaan kepada generasi selanjutnya terkendala akan kesibukan sehari para pemain musik Bas. Ini menjadi PR penting bagi pemerintah daerah mengembangkan kebudayaan hasil dari orang-orang terdahulu kita agar generasi berikutnya bisa ikut merasakan kebudayaan nenek moyang, khususnya masyarakat Enrekang.

Pementasan musik Mang Bas akhir-akhir ini jarang sekali dipentaskan karena pergeseran budaya. Dulunya musik Bas sering dipentaskan pada saat acara adat, perkawinan dan perayaan-perayaan lain, kini mulai jarang sekali ditemui. Upaya dari pemerintah daerah untuk mengangkat kembali kearifan lokal yang menjadi khas daerah enrekang ini diantaranya, seperti memberikan ruang untuk tampil pada saat pawai, HUT Indonesia, dan sebagainya. Selain itu upaya lainnya adalah mengajarkan Musik Bambu Mang Bas kepada siswa-siswa pada saat pelajaran kesenian di sekolah.

Dengan perubahan zaman, alat musik Bas mulai terusik keberadaannya, dikarenakan kurangnya minat generasi muda untuk melestarikan hasil kebudayaan dari orang terdahulu kita. Sangat disayangkan kalau ini Musik Bambu Mang Bas ini sampai punah, karena Musik Bambu Mang Bas ini sudah menjadi ciri dari kebudayaan masyarakat enrekang. Peran pemerintah sangat diharapkan dapat menjaga dan melestarikan kebudayaan ini agar generasi mendatang masih bisa melihat dan menikmati pertunjukan Musik Bambu Mang Bas.

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?