MAPPADENDANG

Alias: MAPPADENDANG UGI PARE PARE

Link Referensi: <p>Sumber Lisan :</p> <ol> <li>Amri Kalbu / Puang Kalebbu, (47 Tahun, Budayawan Bacukiki)</li> <li>Andi Oddang, (50 Tahun, Budayawan Sulsel)</li> <li>Wa’ Jare (Pelaku Praktisi Mappadendang)</li> </ol>

Asal: Sulawesi Selatan

Jenis: - Musik - Instrumental, Gerak - Tarian, Upacara Adat - Ritual

Klasifikasi:

  • Terbuka
  • Sakral
  • Dipegang Teguh

Kondisi: Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Promosi Langsung, promosi lisan (mulut ke mulut)
  • Pertunjukan Seni, pameran, peragaan/demonstrasi
  • Radio, televisi, film, iklan

Pelapor:

  • Drs. Harun Sulianto, Bc.IP., S.H.
  • Amarun Agung Hamka, S.STP., M.Si.

Kustodian:

  • Mappadendang Tomanurung
  • Mappadendang Sipakamase
  • Mappadendang Lemoe
  • Mappadendang Padaelo

Guru Budaya/Maestro:

  • Andi Oddang
  • Amri Kalbu
  • Wa’ Jare
  • La Ware
  • Hanafi
  • Ibu Rahma


Keberadaan Mappadendang Ugi di Bacukiki (Parepare) sebagai Ritual Budaya Masyarakat Bugis sesungguhnya telah ada sejak Kerajaan Bacukiki didirikan dalam kisaran Abad 14. Kebudayaan inipun telah ada Ketika Ketika dikunjungi pelaut Eropa pada Abad 15 (Pelras : The Bugis, 26-27). Hingga pada masa syiar Islam di Kerajaan Wajo pada Tahun 1610 (Palippui :41-43).

Kerajaan Bacukiki adalah salah satu kerajaan yang menjadi tujuan exodus penganut kepercayaan “Attoriolong” yang meninggalkan Kerajaan Wajo. Para penganut kepercayaan Attoriolong inilah yang masih mempertahankan keyakinannya secara turun temurun, termasuk berbagai ritual salah satunya adalah Mappadendang Ugi.

Kesenian rakyat ini merupakan warisan seni budaya masyarakat Bacukiki yang terdiri dari unsur ritual, musik, syair, lagu, tari dan kerap diselingi dengan seni pencak silat. Seni budaya yang dinamis ini disebut sebagai ritual karena terlahir dari kepercayaan Attoriolong (agama/kepercayaan orang dulu) yang bersumber dari I La Galigo, sejak berabad-abad sebelum syiar Islam di Sulawesi Selatan.

Sebagai suatu kesenian rakyat, masyarakat Bugis yang sebagian besar beragama Islam, khususnya masyarakat Bacukiki tetap melestarikan Mappadendang Ugi ini, meski itu tidak semata-mata dipandang lagi sebagai ritual. Meski demikian, masyarakat Bacukiki yang masih melestarikan kepercayaan Attoriolong yang dikenal sebagai kaum Tolotang, senantiasa menyelenggarakan Mappadendang Ugi ini pada waktu-waktu tertentu dengan melibatkan seluruh masyarakat Bacukiki yang beragama Islam, meski keikut sertaan itu dimotivasi pada sisi berkesenian dan fungsi sosialnya.

Mappadendang Ugi diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME, dimana dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, misalnya : pesta panen, pelepas nazar setelah sembuh dari penyakit atau dikala air surut setelah banjir selama beberapa hari. Selain itu, ritual kesenian ini diselenggarakan pula sebagai tolak bala yang didahului oleh tanda-tanda alam, misalnya ; gerhana bulan, gerhana matahari dan lainnya dengan harapan semoga masyarakat dikawasan itu terhindar dari wabah penyakit ataupun bencana alam.

Fungsi ritual permainan musik tradisional ini, memerlukan syarat-syarat khusus sesuai kepentingan acara yang hendak diikhtiarkan oleh penyelenggaranya. Pemilihan tempat penyelenggaraannya disesuaikan dengan niatnya. Biasanya dilaksanakan pada tempat terbuka yang ditumbuhi pohon besar, dimana pohon itu dikeramatkan oleh masyarakat. Kerap pula diselenggarakan oleh masyarakat yang memiliki hajat (nazar), dilangsungkan pada halaman depan rumah kediamannya ataupun disamping. Biasanya waktu/hari yang dipilih adalah pada hari kamis atau malam kamis terakhir dalam suatu bulan menurut kalender bulan Arab, sebagaimana itu disebutnya : coppo' kamisi'.

Bila penyelenggaraannya pada waktu gerhana bulan, pelaksanaannya tidak selamanya pada hari kamis siang, melainkan pada malam saat gerhana bulan itu terjadi. Pada moment ini, peserta Mappadendang Ugi menyanyikan lagu ataupun meratapkan ungkapan bujukan : "luani anringmu naga, aja' nakame' linoe" (muntahkanlah adikmu wahai sang naga, agar dunia tidaklah kiamat). Kepercayaan dulu masyarakat Bugis meyakini bahwa gerhana bulan terjadi karena sang naga langit bermain-main dengan adiknya, yaitu bulan. Sang Naga kerap merasa gemas pada adiknya itu sehingga dimasukkannya dirongga mulutnya.

Pemimpin ritual Mappadendang Ugi biasanya para Bissu (pendeta spiritual bugis), Puang Matoa ataupun Sanro Wanua (dukun negeri). Pesertanya terdiri dari laki-laki dan perempuan yang telah disucikan. Adapun peralatannya adalah lesung dan alu. Mereka menumbukkan alu yang dipegangnya itu dengan kompak (harmoni) sehingga menciptakan irama perkusi yang indah. Mereka mengetukkan alunya dengan agresif sehingga mengundang keterlibatan masyarakat yang menontonnya. Pertunjukan itu berlangsung riuh diiringi sorak dan tepukan penonton terhadap peserta pria yang paling agresif sehingga disebut "ambo'na" (bapaknya) ataupun pada peserta wanita yang paling dominan dengan sebutan "indo'na" (ibunya). Seiring dengan dukungan penonton itu, peserta semakin gencar menumbukkan alunya pada lesung dengan teratur serta menciptakan irama rithmis, disertai gerakan atraksi menari ataupun pencak silat berpasangan, baik dengan tangan kosong ataupun dengan alu. Peserta wanita menumbukkan alunya dengan tetap mempertahankan irama dasarnya, sementara pria meningkahinya dengan tumbukan yang mencipta variasi irama, namun tetap menjaga keserasiannya. Terkadang penonton ikut pula berjoget disekitar lesung yang dikelilingi peserta sehingga terciptalah keakraban antar sesama warga.

Malam semakin larut, penyelenggaraan Mappadendang Ugi semakin riuh. Terkadang terjadi hal-hal magis dimana salah seorang peserta ataupun penonton kesurupan mahluk gaib. Pemimpin upacaranya bersegera memulihkannya dengan mantra. Puncak acara terjadi ketika tokoh masyarakat yang duduk pada tempat istimewa beranjak ketengah lapangan untuk "majjama'" (menjabat) pemain yang difavoritkannya dengan amplop berisi uang. Amplop itu disisipkannnya pada saku baju ataupun disela-sela destar. Hal ini diikuti penonton lainnya sehingga setiap peserta Mappadendang Ugi mendapatkan amplop sebagai rezekinya malam itu. Sebagian yang lain ikut berjoget lalu diakhiri dengan pemberian penghargaan tulus pada peserta.

Ritual kesenian rakyat Mappadendang Ugi ini sesungguhnya memiliki fungsi sosial. Interaksi sosial dikalangan masyarakat dari ragam stratanya terpaut dalam suatu penyelenggaraan berkesenian. Selain itu, pertunjukan ini dapat pula berlangsung sebagai arena perjodohan bagi muda mudi. Fungsi lainnya sebagai hiburan, tidaklah sama dengan musik dangdut pada masa sekarang ini yang tampil sensual dengan gerak tari yang vulgar. Kesenian rakyat yang kolosal ini tercipta dengan formula yang riuh namun dengan peralatan sederhana serta tanpa panggung pertunjukan. Diselenggarakan pada alam terbuka sebagai interaksi luhur antara alam dan manusia yang menghuninya.

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?