MACCERA MANURUNG

Alias: MACCERA MANURUNG KALUPPINI

Link Referensi: <p>1. Musdalifah Chanrayati Dahyar. 2016. <em><em>Tradisi Maccerang Manurung Di Kaluppini Kabupaten Enrekang (Studi Kebudayaan Islam)</em></em>. Makassar: UIN Alauddin Makassar</p> <p>2. Nur Rahma, dkk. 2016. <em>Tinjauan Sosiokultural Makna Filosofi Tradisi Upacara Adat Maccera Manurung Sebagai Aset Budaya Bangsa Yang Perlu Dilestarikan (Desa Kaluppini Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan)</em>. Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar.</p> <p>3. Sitti Fatimah Dwi Putri. 2019. <em><em>Eksistensi Maccera Manurung Dalam Perspektif Nilai Islam.</em></em> Makassar: Jurnal Rihlah UIN Alauddin Makassar</p> <p>4. <a href="https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&amp;detailTetap=562">https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&amp;detailTetap=562</a></p> <p>5. <a href="https://www.youtube.com/watch?v=4CdYYPcp89Y">https://www.youtube.com/watch?v=4CdYYPcp89Y</a></p> <p>6. <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Maccera_manurung">https://id.wikipedia.org/wiki/Maccera_manurung</a></p> <p>7. <a href="https://budaya-indonesia.org/Maccera-Manurung">https://budaya-indonesia.org/Maccera-Manurung</a></p>

Asal: Sulawesi Selatan

Jenis: - Upacara Adat - Upacara

Klasifikasi:

  • Terbuka
  • Sakral
  • Dipegang Teguh

Kondisi: Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Selebaran, poster, surat kabar, majalah, media luar ruang
  • Radio, televisi, film, iklan
  • Internet
  • Riset

Pelapor:

  • Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd.
  • Drs. Harun Sulianto, Bc.IP., S.H.
  • Jumurdin, S.Pd., M.Pd.
  • Anggoro Dasananto, S.H.

Kustodian: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Enrekang

Guru Budaya/Maestro:

  • Robert
  • Muthmain


Maccera Manurung Kaluppini adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Enrekang, khususnya di daerah Kaluppini, Provinsi Sulawesi Selatan. Maccera Manurung ini merupakan salah satu ritual pengungkapan rasa syukur masyarakat atas keberhasilan pertanian. Tradisi ini dirayakan tidak hanya oleh masyarakat Enrekang, tetapi juga masyarakat dari daerah lain di luar provinsi. Tradisi ini hanya dilaksanakan setiap delapan tahun sekali dan berlangsung selama empat hari berturut-turut.

Maccera Manurung terdiri dari dua kata yaitu maccera manurung yang masing-masing memiliki arti. Maccera adalah mendarah, yaitu menyembelih binatang, mengoreskan darah binatang, kepalanya ditanam, untuk persembahan yang sakral. Sedangkan Manurung berasal dari bahasa Bugis yang dalam terjemahan bebasnya berarti “orang yang turun dari ketinggian/kayangan“ dengan sifat-sifat khusus seperti:

1. Tumanurung tidak dikuburkan apabila meninggal dunia karena tubuhnya menghilang tinggal pakaian atau kerisnya.

2. Tumanurung dapat dengan tiba-tiba tidak bisa dilihat, kadang berada di dekat kita.

3. Tumanurung banyak tahu, terbukti bimbingannya kepada masyarakat untuk memuja dan menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pesta adat “maccera manurung” atau biasa disebut menyembelih hewan ternak untuk dipersembahkan kepada To Manurung (Raja atau pemimpin berabad-abad yang lalu). Maccera manurung dilakukan oleh masyarakat Massenrempulu, Kab. Enrekang. Proses pelaksanaan tradisi upacara adat maccera manurung, yaitu sebagai berikut:

a) Mappabangun Tanah

Menabuh gendang merupakan proses awal dalam mappabangun tanah. Kemudian dilanjutkan dengan berdoa yang dipandu oleh pemangku adat. Masyarakat meyakini tanah adalah inti dari seluruh jagad sehingga tanah inilah yang pertama kali dibangunkan. Ma'pabangun Tanah dilakukan untuk menghadapi delapan tahun ke depan dengan harapan selamat senatosa menempuh kehidupan yang akan datang supaya rezeki lebih melimpah dari apa yang dilalui.

b) Macce’do Mayang

Prosesi mengisi tuak manis ke dalam teko yang terbuat dari bamboo kemudian disiramkan ke daun pisang sedikit, dan sisanya diminum. Bacaannya sama dengan prosesi ma’jaga bulan. Tujuannya untuk keselamatan dalam pelaksanaan ritual adat maccera manurung baik pemangku adat maupun masyarakat. 

c) Ma’jaga Bulan

Dimulai 3 bulan sebelum Maccerang Manurung, setiap hari jumat sampai 3 bulan sappe bulan (melihat tanggal berdasarkan penghilatan bintang di langit). Tujuannya ialah untuk mengetahui penanggalan berdasarkan khoroskop tata letak bintang agar pelaksanaan ma’cera manurung dapat dilaksanakan tepat waktu.

d) Ma’ Peong di Bubun Nase

Dalam prosesi Mappeong ini di siapkan beberapa macam makanan diantaranya pisang, ketupat, telur ayam, pinang, daun sirih, beras pulut yang di masak di dalam batang bambu atau warga setempat mengenalnya dengan nama Lemmang. Sesajian ini digabung dalam satu wadah dengan dialasi daun waru, kemudian sesajian tersebut dibagikan kepada para tokoh adat yang merupakan keturunan dari puang Kamummu. Mappeong dila ksanakan di Bubun Nase. Bacaannya: “Ku peta’dai barakka’na salama dipugaukki tijio meccerang manurung. Sesajen lainnya berupa ayam yang diseambelih sebanyak Passapa’. Warga setempat meyakini Mappeong sebagai pemberian persembahan kepada leluhur ini, di berikan sebagai ungkapan rasa syukur atas rezki yang telah diperoleh masyarakat selama delapan tahun.

e) Masso’ Di Gandang

Setelah shalat jumat, perangkat pelaku adat berangkat dari mesjid ke sapo menuju lapangan Datte-Datte di pelataran mesjid. Setelah itu gandang dikeluarkan dari dalam mesjid untuk dijemur sebentar di atas batu, sehabis shalat jumat barulah gan dang diangkat dan digantung oleh Pande Gandang. Ayam bolong diawa dari sapo, ayam Paso mane disembelih oleh Paso jao gandang. Setelah disembelih, gandang diso, di (pemuku lan 1 gendang) sebagai tanda peresmi an pembukaan acara macce’ra manur ung. Gandang Juma’ 3 x , Gandang diji’jo, Baramba Parindi’, Lomba, Buttu Beke dan Gandang Sial. Warga percaya kayu-kayu tersebut memiliki keampuhan mengobati berbagai macam penyakit. Ritual menabuh gendang tua yang dianggap keramat itu dilakukan pada hari jumat. 

f) Liang Wai

Mengeluarkan air dari pusat bumi. Mereka melakukan ritual ini di awali dengan berdoa di sebuah lubang sumber mata air yang terletak di tengah hutan yang ketinggiannya mencapai 1.000 Meter di atas permukaan laut. Saat mereka berdoa, air tersebut akan memancar keluar dari lubangnya. Air ini dipercaya sebagai air dewata. Saat mereka berdoa, air tersebut akan memancar keluar dari lubangnya. Jika mata air tidak memancar biasanya masyarakat yang berada di kabupaten Enrekang ini harus bersiaga dengan kemungkinan buruk seperti gagal panen, atau biasanya ada warga kampung yang menjadi gila.Air yang biasanya keluar dari sumber mata air yang memancar pada saat pelaksanaan pesta adat ini diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai bisa membawa berkah atau membawa rezeki bagi yang menyimpannya.

g) Sipallolongan / Tudang Ada’

Para pemangku adat turun dikolong rumah adat (sullung) untuk makkelong osong sekitar jam 12 malam. Setelah itu botting ada’ lakilaki ( semua pemangku adat beserta istrinya ) dengan menggunakan baju adat dan baju tokko, selanjutnya menuju Datte – Datte untuk Sumajo. Urutan Pembawa Sumajo se bagai berikut: Paso, Tomakaka, Ada’, Tomatua Pa’ bicara Pondi, Tomatu, Pa’bigcara La ndo, Pande Tanda, Tappuare, To Mas situru, Ambe Lorong dan Ambe Kombong. Ritual adat, dimana pemangku adat dan istrinya berkumpul di pelataran rumah adat untuk melakukan kelong osong. Sipallolongan bertujuan untuk mempersatukan para pemangku adat dan membicarakan ritual adat. Keesokan harinya dilaksanakan penyembelihan tedong peppalitan dan tedong bolong. Tedong peppalitan disimbolkan sebagai perlambangan persatuan masyarakat sedangkan tedong bolong disimbolkan sebagai sumbangan dari masyarakat yang ingin berpartisipasi.

h). Matalunna

3 hari setelah hari senin (hari terakhir acara Maccera Manurung) yakni hari kamis (berdasarkan kelender tahun 2006 pada saat diadakan Pesta Adat Maccera Manurung 8 tahun) kepala kerbau (tedong peppalitan) dimasak yang biasa disebut ma’jaga puli bota atau penutup. Pada acara ini gendang dimasukkan kembali ke dalam mesjid, dan secara keseluruhan acara selesai. Disimbolkan sebagai pengakhiran ritual adat maccera manurung atau penutupan ritual dan 8 tahun kemudian baru di buka kembali. 

Upacara Maccera Manurung masih dipertahankan oleh masyarakat Kaluppini karena mereka beranggapan bahwa adat istiadat adalah hal yang telah mendarah daging dalam diri mereka sehingga tidak dapat dilepaskan dari mereka, masyarakat Kaluppini juga beranggapan apabila mereka tidak melakukan upacara Maccerang Manurung hasil panen, ternak dan keluarga mereka akan mendapat musibah. Hal inilah yang mendasari mereka masih mempertahankan tradisi mereka.

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?