ASTA KOSALA-KOSALI

Alias: TUTUR WISWAKARMA, ASTA KOSALANING DEWA

Link Referensi: <table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"> <tbody> <tr> <td align="left" valign="top"> <p>I Nyoman Gelebet dengan karya ilmiah berjudul “Arsitektur Tradisional Daerah Bali” (1982);</p> <p>Ngakan Ketut Acwin Dwijendra dengan judul karya “Arsitektur Rumah Tradisional Bali Berdasarkan Asta Kosala-Kosali (2009);</p> <p>Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dengan judul karya “Astakosala-kosali, Asta Bhumi, Eka Prathama, Dharma Kahuripan” (2007)</p> </td> </tr> </tbody> </table>

Asal: Bali

Jenis: Kecakapan teknik (know how), keterampilan, inovasi, konsep, pembelajaran dan praktik kebiasaan lainnya

Kondisi: Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Promosi Langsung, promosi lisan (mulut ke mulut)
  • Pertunjukan Seni, pameran, peragaan/demonstrasi
  • Selebaran, poster, surat kabar, majalah, media luar ruang
  • Radio, televisi, film, iklan
  • Internet

Pelapor: I WAYAN ADNYANA

Kustodian:

  • JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA
  • SERAYA BALI STYLE

Guru Budaya/Maestro:

  • Ngakan Ketut Acwin Dwijendra
  • I Ketut Pradnya


Astakosala-kosali memiliki tradisi sejarah yang panjang. Tampaknya, astakosala-kosali sebagai pengetahuan arsitektur tradisional Bali telah dikenal pada abad ke-9. Hal ini dibuktikan berdasarkan data Prasasti Bebetin berangka tahun 818 Saka (896 M). Pada saat itu, di Bali telah dikenal ahli arsitektur tradisional Bali yang disebut Undagi.

Asta Kosala Kosali memiliki makna filosofis yang tinggi bagi masyarakat Bali, yang merupakan konsep tata ruang tradisional Bali yang berdasarkan pada:

konsep keseimbangan kosmologis (Tri Hita Karana: Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan),

hirarki tata nilai (Tri Angga: Utama Angga, Madya Angga, Nista Angga),


Tata Letak Dalam Membangun

Ketika rancangan rumah sudah selesai, dalam proses membangun rumah ada beberapa hal yang bisa menjadi patokan agar rumah lebih bersinergi positif. Yaitu sebagai berikut:

Bangunan yang terletak di timur,lantainya lebih tinggi sebab munurut masyarakat bali selatan umumnya,bagian timur dianggap sebagai hulu(kepala)yang disucikan. Dari segi fengshui pun mengatakan dengan tatanan seperti sinar matahari tidak terlalu kencang,dan air tidak sampai ke bagian hulu sehingga memberikan energi yang lebih positif. Bagunan yang cocok untuk ditempatkan diareal itu adalah tempat suci keluarga yg disebut merajan atau sanggah.

Dapur diletakan di arah barat (barat daya) dihitung dari tempat yang di anggap sebagai hulu (tempat suci) atau di sebelah kiri pintu masuk areal rumah, karena menurut konsep lontar Asta Bumi,tempat ini sebagai letak Dewa Api.

Sumur ato lumbung tempat penyimpanan padi jika bisa diletakan di sebelah timur atau utara dapur atau juga di sebelah kanan pintu gerbang masuk rumah karena melihat posisi Dewa Air.

Bangunan balai bandung (tempat tidur) diletakan diarah utara,sedangkan balai adat atau balai gede ditempatkan disebelah timur dapur dan diselatan balai bandung. Bangunan penunjang lainnya diletakkan di sebelah selatan balai adat


Penentuan Pintu Masuk

Selain menemukan posisinya yang tepat untuk menangkap dewa air sebagai sumber rejeki ukuran pintu masuk juga harus diatur. Jika membuat pintu masuk lebih dari satu,lebar pintu masuk utama dan lainya tidak boleh sama.Termasuk tinggi lantainya juga tidak boleh sama. Lantai pintu masuk utama (dibali berbentuk gapura/angkul – angkul) harus dibuat lebih tinggi dari pintu masuk mobil menuju garase.jika dibuat sama akan memberi efek kurang menguntungkan bagi penghuninya bisa boros atau sakit-sakitan.Akan sangat bagus bila di sebelah kiri (sebelah timur jika rumah mengadap selatan) diatur jambangan air (pot air) yang diisi ikan.


Fungsi Pengetahuan Tradisional Asta Kosala Kosali  adalah merupakan pedoman utama bagi masyarakat Bali khususnya profesi seorang undagi (arsitek tradisional Bali), berisi pengetahuan tentang ajaran hakikat seorang arsitek (undagi), hal-hal yang harus diketahui dan dipatuhi oleh undagi, dewa pujaan seorang undagi (Bhatara Wiswakarma), ukuran-ukuran (sikut) yang digunakan dan dijadikan pedoman dalam melakukan kerja arsitektur, teknik pemasangan bahan bangunan, tata cara mengukur luas bangunan, jenis-jenis bangunan tradisional Bali, ajaran mengenai hubungan seorang undagi dengan pekerjaan dan kewajibannya terhadap Tuhan, jenis-jenis kayu yang layak dijadikan bahan bangunan, sesajen yang digunakan dalam mengupacarai bangunan, serta mantra-mantra yang wajib digunakan seorang undagi (arsitek tradisional Bali).

orientasi kosmologis (Sanga Mandala),

ruang terbuka (natah),

proporsional dan skala,

kronologis dan prosesi pembangunan,

kejujuran struktur dan

kejujuran pemakaian material.


Hal-hal tersebut diatas merupakan pijakan bagi masyarakat Bali dalam melaksanakan pembangunan karena kepercayaan masyarakat bahwa berpedoman pada konsep pengetahuan Asta Kosala Kosali dalam membuat bangunan (pemilihan lahan, pemilihan bahan, menentukan dimensi dan ukuran bangunan proporsional sesuai skala ukuran tubuh pemilik rumah disertai dengan ritual upakara dan hari baik) maka dipercaya akan terjadi keseimbangan kehidupan penghuni rumah dengan lingkungan di sekitar pekarangan.


Dalam perkembangannya, Pengetahuan Arsitektur tradisonal Asta Kosala Kosali tetap dijalankan oleh masyarakat Bali namun disesuaikan dengan keadaan kekinian yang dihadapkan dengan areal bangunan yang terbatas, penggunaan bahan material yang dimodifikasi dan sebagainya.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga pengetahuan ini tetap lestari antara lain:

Mensosialisasikan pengetahuan arsitektur tradisional Asta Kosala Kosali kepada generasi muda agar memahami dan mengimplementasikan Asta kosala kosali dalam pembuatan bangunan dengan menyesuaikan pada kondisi masa kini. Hal ini bertujuan agar pengetahuan tradisional ini dapat lestari, serta ciri khas arsitektur tradisional Bali dapat terjaga dan diteruskan secara turun temurun.

Memasukkan mata pelajaran / jurusan Arsitektur Bali pada Sekolah/universitas yang ada di Bali.

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?