Rujak Soto

Link Referensi: <p><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Rujak_soto">https://id.wikipedia.org/wiki/Rujak_soto</a></p> <p><a href="https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/">https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/</a></p>

Asal: Jawa Timur

Jenis:

  • Kecakapan teknik (know how), keterampilan, inovasi, konsep, pembelajaran dan praktik kebiasaan lainnya
  • Kemahiran membuat kerajinan tradisional, makanan/minuman tradisional, moda transportasi tradisional

Kondisi:

  • Sedang Berkembang
  • Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Promosi Langsung, promosi lisan (mulut ke mulut)
  • Pertunjukan Seni, pameran, peragaan/demonstrasi
  • Selebaran, poster, surat kabar, majalah, media luar ruang
  • Radio, televisi, film, iklan
  • Internet

Pelapor: M.Y.BRAMUDA, S.Sos., M.BA.MM

Kustodian: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Guru Budaya/Maestro: Hasan Basri


Rujak soto merupakan perpaduan antara rujak janganan dan soto. Rujak sayur dan soto babat. Pada mulanya, rujak yang diolah adalah rujak sayur, namun pada perkembangannya, ada varian baru rujak soto. Jadi rujak soto adalah rujak sayur yang disiram kuah soto babat/daging berwarna kuning diatasnya. Sejarah tentang penemu dan pengracik awal rujak soto masih simpang siur dan belum dapat dipastikan. Namun tahun 1970-an adalah tahun yang dipercaya sebagai tahun awal kemunculan kuliner khas ini.

Salah satu ciri rujak Jawa Timur adalah penggunaan petis dan bumbu tak lazim yaitu pisang klutuk atau pisang batu pada bumbu rujaknya. Petis adalah produk olahan dari hasil laut seperti ikan dan udang. Petis berbeda dengan terasi. Bahan pangan ini berfungsi sebagai penyedap dalam masakan Jawa Timuran. Bentuknya seperti saus yang cukup padat dan kental, cenderung berwarna hitam keabu-abuan. Tidak sulit mendapatkan petis di Banyuwangi karena Kabupaten ini kaya akan hasil lautnya. Pisang batu memiliki ciri daging buahnya dipenuhi dengan biji. Pisang batu digunakan sebagai bumbu penyedap pada masakan khususnya rujak uleg. Rasa sepat dari pisang batu memiliki citarasa yang khas. Bagi masyarakat Banyuwangi, rujak tanpa pisang batu akan terasa hambar.

Bahan-bahan untuk membuat Rujak Soto Banyuwangi sangat sederhana dan mudah didapatkan di pasar-pasar tradisional.Untuk menyajikannya tidak dibutuhkan waktu yang lama. Hanya saja pada proses pembutan sotonya dibutuhkan waktu sekitar 2 jam agar daging sapi lebih empuk. Proses pembuatan Rujak Soto Banyuwangi dimulai dari mempersiapkan bahan. Bumbu yang digunakan untuk membuat rujak dalam Rujak Soto Banyuwangi adalah kacang tanah yang sudah digoreng, garam, gula merah, terasi, petis hitam,  pisang batu dan cabe rawit. Isian rujaknya adalah tempe dan tahu goreng, tauge dan kangkung rebus, telur ayam yang direbus, mentimun dan lontong. Sedangkan bumbu yang digunakan untuk membuat sotonya adalah bawang putih, kunyit, jahe, kemiri, merica, serai yang dimemarkan, daun jeruk dan daun bawang. Untuk dagingnya dipilih daging sapi bagian babat dan jeroan.Mencuci bersih semua bahan dan mengupasnya.

Pertama semua bumbu dihaluskan. Sedikit minyak goreng dimasukkan kedalam penggorengan, ketika minyak sudah cukup panas, bumbu halus digongso dan ditambahkan daun jeruk dan batang serai yang sudah dimemarkan. Bumbu digongso sampai matang, lalu ditambahkan air. Masukkan jeroan dan babat sapi yang sudah direbus terlebih dahulu sebelumnya. Soto akan matang ketika air sudah mendidih dan babat dirasa cukup empuk. Sebelum diangkat, kuah ditambahkan irisan daun bawang dan bawang goreng.

Untuk membuat rujaknya, semua bumbu dihaluskan, ditambah air sedikit. Jumlah cabe rawit yang dimasukkan, tergantung dari pesanan pembeli. Untuk tingkat kepedasan, biasanya konsumen akan menentukan sendiri. Masyarakat Banyuwangi, kebanyakan menyukai hidangan yang pedas.
Setelah bumbu rujak sudah siap, kemudian tahu dan tempe goreng diiris kecil. Ditambah irisan lontong, rebusan tauge dan sayur kangkung, mentimun yang dicacah kasar, telur rebus yang dibelah dua dan terakhir irisan babat atau jeroan. Cara penyajiannya adalah, rujak sayur dimasukkan kedalam mangkok, kemudian disiram kuah soto. Diatasnya diberi taburan bawang goreng dan daun bawang. Ditambah dengan kerupuk udang dan emping mlinjo.
Rujak soto Banyuwangi memiliki rasa khas asin, gurih dan pedas.

 

Di Banyuwangi sendiri, kuliner ini sangat populer. Banyak warung makan yang menjualnya. Adanya kuliner khas Banyuwangi ini menambah keberagaman kuliner Nusantara. Mendatangkan manfaat secara nyata bagi masyarakat Banyuwangi. Mempererat kedekatan antara warga, salah satunya tercermin dalam kegiatan Festival Rujak Soto Banyuwangi yang pernah diselenggarakan di tahun 2014. Dalam festival ini, lebih dari 200 orang berlomba untuk membuat Rujak Soto Banyuwangi terenak. Nama Rujak Soto yang unik mendatangkan wisatawan ke Banyuwangi demi mencicipi rasa khas langsung dari asalnya. Hal tersebut tentunya mendatangkan dampak positif bagi perekonomian masyarakat Banyuwangi. Dan tidak perlu diragukan lagi, kepopuleran Rujak Soto Banyuwangi bukan hanya sekedar kuliner melainkan makanan yang tercipta dari kultur budaya Banyuwangi yang kaya. Rujak soto merupakan cerminan dari cara berpikir yang sederhana dari masyarakat Osing.

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?