RUJAK CINGUR

Alias: RUJAK CINGUR

Link Referensi: <p>Erris Dirham Syah, Kegiatan Komunikasi Depot Rujak Cingur Genteng Durasim Surabaya (Skripsi, Universitas Airlangga, 2014)</p> <p> <br> </p> <p> <br> </p> <p>&nbsp;</p> <p><a href="https://youtu.be/ghjCwkkijeM">https://youtu.be/ghjCwkkijeM</a></p>

Asal: Jawa Timur

Jenis: Kemahiran membuat kerajinan tradisional, makanan/minuman tradisional, moda transportasi tradisional

Kondisi: Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Promosi Langsung, promosi lisan (mulut ke mulut)
  • Internet
  • Riset

Pelapor: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya

Kustodian: Depot Rujak Cingur Genteng Durasim

Guru Budaya/Maestro: Hendri Sudikto


Rujak Cingur merupakan dampak dari besarnya peranan petis terhadap kuliner yang menjadi penyedap rasa dan menjadi bahan utama dari sajian berbagai olahan makanan di Surabaya. Petis sempat disebut oleh Thomas Stamford Raffles (Gubernur Hindia Belanda yang memerintah pada tahun 1811-1816) dalam karyanya berjudul History Of Java yang mengungkapkan bahwa petis diolah dari bahan campuran daging kerbau yang terdapat di wilayah-wilayah pedalaman. Dukut Imam Widodo dalam bukunya Monggo Dipun Badhog, menyebut bahwa industri petis di Surabaya telah hadir sejak awal abad ke – 19, dibuktikan dengan adanya iklan petis milik Nyonya Siok yang muncul di sebuah koran. Sejak saat itu, iklan-iklan petis mulai bermunculan di berbagai surat kabar. Pada tahun 1934, penjual petis di Surabaya dapat ditemukan melalui Toko Gan yang terletak di Kambodjastraat 12 (Ketabang).


Rujak Cingur adalah makanan yang berisi campuran dari Cingur sebagai bahan utamanya, lalu ditambah dengan irisan buah dan sayuran, tahu, tempe, lontong serta petis dan bumbu-bumbu lain, seperti bumbu kacang yang disajikan dengan cara diulek. Rujak Cingur biasa disajikan dengan tambahan kerupuk, dan dengan alas pincuk (daun pisang) atau piring saji. Secara historis, Rujak Cingur di Surabaya diperkirakan sudah ada sejak tahun 1938 melalui sebuah warung makanan yang terletak di Jalan Genteng Durasim 29. Menurut Hendri (pemilik warung), dulunya yang menjual Rujak Cingur adalah neneknya yang bernama Mbah Woro, kemudia Bu Maryam hingga meninggal tahun 1978, usaha itu pun kemudian dijalankan secara turun temurun dengan tetap mempertahankan mutu dan menjaga cita rasa. Rujak Cingur Genteng Durasim bahkan dikenal sampai ke mancanegara, ketika diadakan APEC di Surabaya, Rujak Cingur Genteng Durasim diundang oleh Walikota untuk menghidangkan sajian Rujak Cingur kepada 1.500 peserta APEC dari 21 negara berbeda.

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?