KALANG

Link Referensi: <ul> <li>Judul : Pengkajian Kebudayaan Komunitas Adat Terpencil (Suku Laut) Kabupaten Lingga</li> </ul> <p>Penulis :</p> <ul> <li>Abdul Malik</li> <li>Zulkifli Harto</li> <li>dan Dedi Arman</li> </ul> <p>Tahun : 2018</p> <p>Penerbit: Milaz Grafika</p> <p> <br> </p> <ul> <li>Judul: Data Base Seni Rupa, Seni Pertunjukan, dan Seni Kerajinan</li> </ul> <p>Penulis :</p> <ul> <li>&nbsp;Firdaus</li> <li>Elmustian</li> <li>Hendri Purnomo</li> <li>M. Fadlillah</li> <li>Muhammad Hasbi</li> <li>Lazuardy</li> </ul> <p>Tahun : 2018</p> <p>Penerbit : Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga</p>

Asal: Kepulauan Riau

Jenis: Kemahiran membuat kerajinan tradisional, makanan/minuman tradisional, moda transportasi tradisional

Kondisi: Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Promosi Langsung, promosi lisan (mulut ke mulut)
  • Pertunjukan Seni, pameran, peragaan/demonstrasi
  • Internet

Pelapor: IZHARI

Kustodian: DINAS KEBUDAYAAN KABUPATEN LINGGA

Guru Budaya/Maestro: LIMAH


Kabupaten Lingga merupakan daerah Kepulauan, yang sebagian besar wilayahnya berupa lautan terdapat kelompok masyarakat Orang Laut yang mendiami pesisir pantai, dan muara sungai. Orang Laut pada mulanya hidup di atas sampan mengembara di sekitaran pulau-pulau di Lingga. Seiring waktu, sebagian besar dari Orang Laut menetap di tepi-tepi pantai dan muara sungai. Sebagian dari mereka yang pada mulanya hanya animisme selanjutnya menganut agama Islam, Kristen, Buddha dan Konghucu.

Di Kabupaten Lingga, terdapat dua kelompok Orang Laut yakni Orang Laut Suku Mantang dan Orang Laut Suku Barok. Dalam budaya Melayu Lingga, tidak diperkenankan menyebutkan suku Orang Laut dengan nama suku Mantang atau Barok. Penyebutan suku Mantang dan suku Barok dianggap menghina Orang Laut. Orang Laut lebih merasa dihormati jika dipanggil dengan Orang Laut. Untuk mencukupi kebutuhan ekonomi sehari-hari, Orang Laut sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Dalam berburu hasil laut, Orang Laut menggunakan peralatan dan perlengkapan tradisional. Untuk mencukupi makanan sehari-hari, sebagian dari mereka berburu hewan liar di darat

            Di Desa Kelumu, Kecamatan Lingga, dapat ditemukan kelompok masyarakat Orang Laut dari kalangan suku Mantang. Orang Laut yang berada di Desa Kelumu menetap dipesisir pantai di sekitar muara sungai Kelumu. Pemukiman mereka disebut dengan Kampung Baru. Puluhan tahun yang lalu, masyarakat Orang Laut di Desa Kelumu masih tinggal di atas sampan berpindah-pindah sekitaran pulau Lingga. Masyarakat Orang Laut di Desa Kelumu, mayoritas beragama Kristen Protestan dan hanya tiga orang yang beragama Islam. Sama seperti Orang Laut lainnya di Lingga, sejak dulu Orang Laut di Desa Kelumu menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai nelayan. Untuk menambah makanan harian, sebagian laki-laki Orang Laut berburu hewan liar di hutan-hutan di Lingga.

Dalam kelompok masyarakat Orang Laut di Desa Kelumu, bukan saja kaum laki-laki yang bekerja mencari nafkah tetapi sebagian kaum perempuan dari kalangan ibu rumah tangga juga turut melakukan hal-hal yang menambah pendapatan atau pun menghasilkan sesuatu yang bisa dikonsumi dari laut. Untuk menambah pendapatan rumah tangga, sebagian kaum perempuan Orang Laut mempunyai keterampilan dalam membuat perlengkapan untuk perahu, dan perikanan. Sebagian kaum perempuan Orang Laut terampil membuat kajang lipat untuk atap sampan dan kajang untuk alas mengeringkan ikan. Kajang yang dibuat oleh kaum perempuan Orang Laut di jual kepada masyarakat umum yang membutuhkannya.

Sebagian kaum perempuan Orang Laut di Desa Kelumu juga sangat terampil membuat keranjang yang mereka sebut kalang. Kalang merupakan keranjang khas kelompok masyarakat Orang Laut di Desa Kelumu. Sejak masih tinggal di laut, mereka telah mengenal Kalang sebagai wadah menampung sesuatu terutama hasil laut yang didapat lewat berkarang atau memancing. Pada saat air surut, sebagian Orang Laut akan pergi berkarang mencari hasil laut. Mereka membawa kalang untuk memasukkan hasil tangkapan berupa siput, ketam, ikan dan sebagainya.

Kalang dibuat dari rotan yang dianyam sedemikian rupa sehingga berbentut bulat seperti keranjang. Rotan yang dijadikan bahan baku kalang, terlebih dahulu dibelah menjadi dua bagian dan selanjutnya baru dianyam. Bahan baku rotan, didapatkan oleh Orang Laut dari hutan dilingkungan sekitar mereka. Seperti kajang, kalang kadang juga dijual kepada masyarakat yang membutuhkannya. Namun kalang sangat jarang dibeli oleh masyarakat diluar kelompok Orang Laut.

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?