SANGGRING GUMENO

Alias: KOLAK AYAM

Link Referensi: <div>Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Gresik,</div> <div>2015, Profil Pariwisata Kabupaten Gresik, Kabupaten Gresik<br /><br /></div> <div>Mufarohah, Siti: ”Aspek-Aspek Historis Tradisi Sanggring (Kolak Ayam) Di</div> <div>Desa Gumeno, Kabupaten Gresik”.Skripsi.Jurusan Pendidikan Sejarah.</div> <div>Program Sarjana Universitas Negeri Surabaya,2014.</div>

Asal: Jawa Timur

Jenis: Kemahiran membuat kerajinan tradisional, makanan/minuman tradisional, moda transportasi tradisional

Kondisi: Masih Bertahan

Upaya Pelestarian:

  • Promosi Langsung, promosi lisan (mulut ke mulut)
  • Selebaran, poster, surat kabar, majalah, media luar ruang


Setiap tanggal 23 Ramadhan di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar masyarakat desa tersebut memiliki tradisi memasak kolak ayam dan Orang Gumeno menyebut kolek ayam atau sangring. Tradisi ini merupakan bagian dari tradisi yang turun temurun sejak tahun 1451 M, bertepatan dengan berdirinya Masjid yang dibangun oleh Sunan Dalem yang dinamai ddengan Masjid Jamik Sunan Dalem. Berdirinya masjid ini yang mengawali tradisi Sangring. Pada saat itu penduduk yang memiliki ayam jago diminta mengumpulkan ayamnya di depan halaman masjid untuk disembelih, yang mengolah dan mempersiapkan bumbu-bumbu adalah kaum lelaki dan kaum perempuan tidak boleh memasaknya. Bumbu yang dipersiapkan antara lain daun bawang diiris kecil, gula jawa, jinten dan kelapa untuk diambil santannya. Ayam dipotong dan dicabuti bulunya, dibersihkan jeroannya kemudian direbus dan di suwir-suwir dagingnya saja untuk kemudian dimasak bersama bumbu yang dipersiapkan di kuali dari tanah liat dengan kayu sebagai bahan bakarnya karena jumlah ayam yang disembelih cukup banyak maka dipersiapkan tungku masakan yang banyak dan berbaris-baris sehingga timbul kesan gotong royong dan kebersamaan.

Bagikan artikel ini

Apakah konten ini membantu?