{"id":31662,"kik_type":"Pengetahuan Tradisional","title":"TAROMPA KUDO","body":"<p>a.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Sejarah<br>Kuda diyakini telah menjadi tunggangan atau alat transportasi bagi manusia sejak 2000 tahun sebelum masehi. Pemanfaatan hewan khususnya kuda sebagai alat transportasi pun terus berlanjut hingga saat ini, bahkan sebelum ditemukannya kendaraan bermotor, kuda menjadi alat transportasi utama. Pada awalnya, kuda tidak memakai sepatu atau tapal kuda seperti saat ini. Kuda ditunggangi dengan alas kaki yang apa adanya, yakni berupa kuku yang cukup kuat. Namun setelah digunakan berlama-lama, ternyata terjadi kerusakan pada kuku kaki kuda tersebut. Karena itulah, menusia berpikir untuk memakaikan tapal pada kaki kuda agar langkah kuda lebih kuat tanpa kesakitan setelah berjalan jauh. Sepatu kuda sendiri baru pertama digunakan manusia pada sekitar 770 masehi. Tapal kuda ini berupa besi pelapis yang dipakai untuk melindungi kaki kuda saat berjalan. Karena itu tapal ini juga disebut sebagai sepatu karena fungsi sama seperti sepatu untuk manusia. Sebelum dipaku, kuku kuda dirapikan dulu dengan cara dipotong. Sesudah kuku kuda dipotong tapal kuda yang sesuai dengan ukuran dipaku dan dipukul dengan martil, arah paku harus pada kemiringan tertentu supaya paku tidak mengenai pembuluh darah.<br>Setelah paku tertancap ujung paku dibengkokkan supaya tidak lepas dan dipukul dengan martil. Sepatu kuda terbuat dari besi dengan berbagai ukuran dan juga paku terbuat dari besi bentuknya segi empat dan panjangnya berbagai ukuran, satu kuda memerlukan paku beberapa ukuran disesuaikan dengan jangkauan dari bawah kuku ke permukaan kuku.<br>Ladam (tapal kuda\/tarompa kudo) adalah besi pelapis yang dipakai oleh kuda untuk melindungi kaki yang sebenarnya merupakan kuku kuda untuk melindungi saat berjalan seperti sepatu. Sepatu kuda ini, dibuat oleh pandai besi. Sebelum dipaku kuku kuda dirapikan dulu dengan cara dipotong dengan peralatan pisau khusus termasuk juga ada martil untuk memukul pisau potong, martil diperlukan karena kuku kuda sangat keras.<br>Sesudah kuku kuda dipotong tapal kuda yang sesuai dengan ukuran dipaku dan dipukul dengan martil, arah paku harus pada kemiringan tertentu supaya paku tidak mengenai pembuluh darah. Setelah paku tertancap ujung paku dibengkokkan supaya tidak lepas dan dipukul dengan martil. Sepatu kuda terbuat dari besi dengan berbagai ukuran dan juga paku terbuat dari besi bentuknya segi empat dan panjangnya berbagai ukuran, satu kuda memerlukan paku beberapa ukuran disesuaikan dengan jangkauan dari bawah kuku ke permukaan kuku. Orang juga menaruh sepatu kuda di pintu, karena dahulu kala, banyak orang yang percaya kalau benda ini membawa keberuntungan dan bisa menangkal ilmu hitam melindungi siapapun yang berjalan di bawahnya dari serangan ilmu hitam. Di Bukittinggi pada masa Kolonial Belanda, transportasi Bendi digunakan sebagai alat angkutan belanja masyarakat dari pasar. Bendi juga sering digukanan sebagai alat penghubung dari kota maupun ke Kampung. Bendi memiliki fasilitas-fasilitas yang mendukung kemegahan bendi, seperti fasilitas umum dan pendukung. Fasilitas umum antara lain adalah bendi, atap bendi (cagak payonan) buntutan bendi (spatbor), roda atau velg bendi (boom) tari penarik bendi yang dikaitkan pada pakaian kuda (openg-openg) tali buntutan kuda, teropong atau penutup mata kuda, pernik hiasan di kepala kuda, besi kendali yang dipasang di bagian mulut kuda, penutup mata kuda (tuntun) tali penarik kuda cambuk kuda (cemeti), lonceng dan tempat lampu.&nbsp;<br>Beberapa fasilitas umum pada bendi antara lain bagasi barang dan tempat sampah, dimana tempat ini digunakan untuk meletakan barang bawaan penumpang yang sedang menaiki bendi. Bagasi ini terletak dibagian depan bendi, sedangkan tempat sampah terletak dibagian bawah bendi. Fasilitas ini sampai sekarang masih terjaga dengan design ciri khas yang dimiliki orang Minangkabau.<\/p><p>b.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Fungsi&nbsp;<br>Tapal Kuda\/tarompa kudo, Tapal kuda berupa besi melempemg, dengan bentuk serupa dengan \"huruf U\". Oleh karena itu, suatu bangun yang bentuk darinya menyetupai \"huruf U\" disebut dengan \"berbangun landam kuda (prosenium)'. Bentuknya yang menyetupai \"huruf U\" tersebut diaesuaikan dengan bentuk kuku tunggal dari kuda, yang sisi samping kanan-kiri dan depannya membentuk bangun menyerupai \"huruf U\". Dengan bentuknya yang demikian, naka bila ditapalkan ke alas kaku kuda, maka terdapat pelindung kuku kuda berbahan besi. Oleh karena pengginaannya dengan ditapalkan pada alas kaku kuda yang bekuku tunggal keras, maka tapal kuda dilengkapi dengan lobang-labang buat tancap paku ke kuku kuda agar pisisi menapalnya pada kuku kuda menjadi kokoh.<br>Tapal kuda\/tarpompa kudo dibuat oleh penempa logam (apa basi), yang memiliki kemampuan khusus dalam membuat tapal kuda\/tarompa kudo. Ketika dulu hewan kuda lazim dipergunakan sebagai kendaraan angkut, baik sebagai tunggangan, pengangkut beban barang ataupun sebagai sumberdaya hewani penariik kereta (bendi), kala itu banyak didapati padai besi (apa basi) yang menerima pesanan dalam membuat tapal kuda dan sekaligus menapalkan ke kuku kuda.&nbsp;<br>Untuk itu, tapal kuda tak cukup hanya berupa pelat besi, melaikan batang besi yang ditempa berulang-ulang oleh pandai besi (apa basi) yang telah tebiasa dan berpengalaman membuatnya. Demikian pula ketika menasang tapal kuda pada alas kaki kuda, sebab salah-salah bisa disepak kuda (disepak kudo). Biasanya, sebelum tapal kuda ditapalkan pada alas kuku tunggal kuda yang keras, alas kukunya diratakan dengan kikir khusus, agar posisi tapal kuda benar-benar presisi dengan kaki kuda. Ini bukanlah pekerrjaan yang gampang bagi yang tidak terbiasa dan berpengalaman.<\/p><p>c.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Upaya Pelestarian merujuk kepada empat pilar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan;<br>1)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Perlindungan<br>Melakukan inventarisasi dan publikasi yaitu perlunya bentuk gonjong supaya keberdaannya tetap ada. Dengan mencatat dan mendokumentasi melalui foto dan video.<br>2)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Pengembangan<br>Menyebarluaskan karya gonjong dengan strukturnya serta nilai dan makna keseluruan bentuk atap rumah tradisional minangkabau.&nbsp;<br>3)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Pemanfaatan<br>Dengan penguatan pengetahuan masyarakat khususnya di Kelurahan Campago Ipuah Kecamatan Mandiangin Koto Selayan pada acara-acara adat yaitu dengan menampilkan bendi sebagai alat transportasi tradisioanal yang ada di Kota Bukitinggi.&nbsp;<br>4)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Pembinaan<br>Meningkatkan peran aktif Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan masyarakat Kelurahan Aua Tajungkang Tangah Sawah dalam melakukan upaya inventarisasi, publikasi bentuk atap tarompa kudo dan menyebarluaskan kepada penguatan pengetahuan tentang alat transportasi sebagai mata pencaharian bagi masyarakat kelurahan Campago Ipuah..<\/p>","published_at":"Kamis, 2 Oktober 2025","reference":"<ol><li><a href=\"https:\/\/youtu.be\/-cbYyxUpxmw?si=E6VA2tobNIAGWZ4g\">https:\/\/youtu.be\/-cbYyxUpxmw?si=E6VA2tobNIAGWZ4g<\/a><\/li><\/ol><p>&nbsp;<\/p><p>&nbsp;<\/p><p>&nbsp;<\/p>","reporters":["DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KOTA BUKITTINGGI"],"custodians":["DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KOTA BUKITTINGGI"],"maestros":["DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KOTA BUKITTINGGI"],"types":["Kecakapan Teknik","Keterampilan"],"preservations":["Pertunjukan Seni, Pameran, Peragaan\/Demonstrasi","Selebaran, Poster, Surat Kabar, Majalah, Media luar ruang"],"conditions":["Masih Bertahan"],"region":"SUMATERA BARAT","galleries":["https:\/\/kikomunal-indonesia.dgip.go.id\/backend\/storage\/pt\/dff6c365b6450a291fa1811fa0d819ff.jpeg"],"videos":[],"related":[{"id":1794,"title":"Jabu Parsakitan","region":"SUMATERA UTARA","galleries":""},{"id":1795,"title":"Jabu Bolon","region":"SUMATERA UTARA","galleries":""},{"id":1796,"title":"ULOS","region":"SUMATERA UTARA","galleries":""}],"is_published":1,"registration_number":"PT132025000381","locations":[{"traditional_knowledge_id":31662,"coordinates":null}]}